PEMILU DAN PILPRES Terbongkar Bansos Rp 500 Triliun Bukan Uang Jokowi dan Bukan untuk Kampanye Gibran Dikucurkan Menjelang Pilpres Bukti Kuat KKN dan Nepotisme Dinasti
DKYLB.com, Jumat (9/2/2024) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menebar bantuan sosial (bansos) yang diklaim sebagai bantuan dari diri dan kelompoknya.
Padahal, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani menjelaskan bahwa bansos itu didanai APBN, senilai hampir Rp 500 triliun di tahun 2023.
Dalam sebuah acara dialog, Sri Mulyani sampai meneteskan air mata karena mencerminkan kesedihan dirinya.
Sosok Sri Mulyani juga dikabarkan sebagai salah seorang di antara sejumlah menteri yang mau mundur dari kedudukan dia.
Posisi itu juga disampaikan dilema yang dialami oleh Menteri Sosial (Mensos), Tri Rismaharini alias Risma, yang sebelumnya dikenal sebagai Wali Kota Surabaya.
Dilema bansos mencuat karena dibagikan menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 dan Pemilu.
"Bansos dibahas di DPR melibatkan semua fraksi dan partai politik (parpol), yang menjadi instrumen negara dalam APBN," kata Sri Mulyani.
Karena itu, tidak benar jika bansos akan meningkatkan elektabilitas kandidat dalam kancah Pilpres sekalipun peserta itu adalah Jokowi karena jelas bukan dana pribadi Jokowi.
Ternyata, diakui Sri Mulyani, anggaran untuk bansos berasal dari APBN, sehingga tidak sepeser pun menggunakan uang Jokowi.
Bahkan, sebagian dana untuk bansos diduga berasal dari utang.
Situasi itu dinilai sangat pelik karena ada sejumlah lembaga survei harus menjadikan pasangan Prabowo dan Gibran teratas dan dipilih responden.
Padahal, secara gamblang, setiap kampanye Prabowo dan Gibran tidak membuat masyarakat dan pemilih mau hadir ke sana.
Oleh karena itu, sejumlah lembaga survei di antaranya LSI Denny JA, Indobarometer, dan Poltracking berupaya mencari pembenaran survei yang mereka lakukan soal keterpilihan Prabowo Gibran ada di urutan atas padahal kampanye selalu sepi.
Padahal, ajang kampanye Prabowo Gibran itu didukung antara lain oleh Raffi Ahmad, yang namanya mencuat terkait pencucian uang.
Demikian juga dukungan yang kabarnya diberikan oleh influencer seperti Ria Ricis dan sejumlah kalangan lainnya tidak menggerakkan pemilih mau menghadiri kampanye Prabowo Gibran.
Apalagi kemudian terungkap bahwa bansos bukan bantuan dari Jokowi apalagi Prabowo dan Gibran.
Ketiganya, sebagaimana diungkapkan oleh Sri Mulyani, sama sekali tidak memberikan bantuan uang tunai atau dalam bentuk lainnya senilai Rp 500 triliun tersebut.
Apalagi semua kampus mulai menyerukan perlawanan bahkan sejumlah guru besar dari sejumlah kampus ternama seperti UGM, UI, UNPAD, ITB, Unair, UNM, dan banyak lagi kampus mulai menyuarakan kritik tajam dan perlawanan terhadap nepotisme yang dilakukan oleh Jokowi.
Bahkan nepotisme itu secara mutlak ditentang oleh MKMK dan DKPP.
Aroma nepotisme telah membuat rakyat muak, sehingga kampanye Prabowo Gibran selalu sepi.
Kalangan pendukung yang diklaim Prabowo Gibran selalu terbanyak seperti diumumkan sejumlah timses yang menyamar seolah lembaga survei terbukti semuanya hoax.
Prabowo Gibran diprediksi tidak lolos di putaran satu jika Pilpres 2024 dilakukan secara jujur dan adil.
Gelombang penolakan rakyat semakin membesar apalagi Prabowo dan Gibran sama-sama tidak mau mundur.
Padahal mereka adalah capres dan cawapres.
Prabowo ketakutan kehilangan jabatannya sebagai Menhan.
Sedangkan Gibran takut kehilangan kedudukan posisi Wali Kota Solo padahal warga Solo semuanya menuntut Gibran mundur dari kedudukan sebagai Wali Kota Solo karena sudah maju sebagai cawapres.

