X

GAYA HIDUP Fenomena Fast Fashion Mengancam Lingkungan: Biaya Murah, Harga Ekologis Tinggi

12 Januari 2025 19:42 | Oleh Tim DKYLB 01

DKLYB.com, Kamis (02/01/2025), Jakarta – Industri fesyen cepat atau fast fashion semakin menjadi sorotan karena dampaknya terhadap lingkungan. Menurut data Greenpeace Indonesia, sebanyak 60% pakaian bekas impor yang masuk ke Indonesia tidak layak pakai dan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Limbah ini memperparah masalah lingkungan, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Siti Maryam, seorang aktivis lingkungan, menjelaskan, "Fast fashion menciptakan budaya konsumsi yang tidak berkelanjutan. Produk-produk yang dijual murah ini biasanya terbuat dari bahan sintetis seperti poliester yang sulit terurai dan menyumbang emisi gas rumah kaca."

Menurut laporan Environmental Protection Agency (EPA), industri fesyen menyumbang sekitar 10% dari total emisi karbon global. Selain itu, produksi pakaian yang berlebihan juga menguras sumber daya alam, seperti air dan energi.

 

Baca Juga: Krisis Tenaga Medis di Pedalaman Papua: Sebuah Masalah Kronis

 

Sebagai gambaran, dibutuhkan 2.700 liter air untuk memproduksi satu kaos katun—jumlah yang cukup untuk kebutuhan minum seseorang selama 2,5 tahun.

Konsumen Mulai Sadar:
Risa Paramita (29), seorang pekerja kantoran di Jakarta, mengatakan bahwa dirinya mulai mengurangi pembelian pakaian baru. "Saya lebih memilih membeli pakaian bekas atau memanfaatkan pakaian lama. Selain lebih hemat, ini juga membantu mengurangi limbah," ujarnya.

Greenpeace menyerukan tindakan nyata dari pemerintah untuk memperketat regulasi impor pakaian bekas dan mempromosikan produksi lokal yang ramah lingkungan. Selain itu, edukasi kepada masyarakat tentang dampak fast fashion juga dinilai penting.

 

(Kevin Zulfian Bay)