X

GAYA HIDUP Misi Juara Liverpool Musim Ini Demi Kado Istimewa Saat Berpisah dengan Juergen Klopp adalah Sapu Bersih Semua Pertandingan Sisa di Semua Kompetisi

20 Februari 2024 11:17 | Oleh GM Soekowati

DKYLB.com, Selasa (20/2/2024) - Meski Opta menempatkan Manchester City sebagai unggulan untuk menempati posisi pertama, tapi tebakan itu dipastikan meleset jika Liverpool menyapu bersih semua pertandingan sisa di musim ini.

Tidak ada yang secara tepat bisa menduga siapa tim yang berhasil menjadi juara musim ini karena ketatnya persaingan yang biasanya hanya melibatkan Liverpool dan Manchester City saja selama satu dekade.

Baca Juga: Pertempuran Menuju Pemuncak Liga Inggris Sengit Antara Tiga Tim Teratas Liverpool, Arsenal, Manchester City untuk Meraih Juara Musim Ini

Sapu bersih atau memenangkan semua pertandingan sisa di paruh kedua musim ini dianggap sulit, tapi tidak ada yang berbuah manis jika diperoleh dengan mudah.

Tidak ada perhitungan matematika yang bisa menduga kekuatan Liverpool musim ini demikian kokoh.

Tim dengan anggaran ketat ini dinilai paling tepat dalam mengatur keuangan dengan membeli pemain yang diburu secara tepat.

Tidak ada pemain dengan nilai overrated di Liverpool seperti terjadi di Arsenal, Manchester United, Chelsea, dan Manchester City yang terlalu sering menghamburkan uang untuk membeli pemain, tapi hasil yang mereka dapatkan tidak sebaik Liverpool.

Perhitungannya dianggap sejumlah kalangan termasuk The Athletic dinilai sederhana.

Padahal rumit karena semua perkiraan bisa meleset jauh.

Meski sulit sekali memrediksi juara di musim ini.

DKYLB tidak gegabah untuk menjagokan Manchester City atau Liverpool sebagai juara di musim ini meski kedua tim ini paling berpeluang cukup besar.

Sejumlah pihak termasuk OPTA lebih mengunggulkan Manchester City dengan peluang paling besar dibandingkan tim lain termasuk Liverpool dan Arsenal.

Kekuatan Manchester City di musim ini dianggap tidak sekuat musim sebelumnya di mana mereka mempunyai uang yang tidak terbatas untuk selalu membeli pemain yang dipesan Pep Guardiola.

Sisa pertandingan Liverpool musim ini

Sapu bersih semua pertandingan sisa di musim ini akan sepenuhnya diterapkan Liverpool.

Mereka akan bisa menguasai Liga Inggris sampai akhir musim bagaimana pun perolehan angka dan performa Arsenal atau Manchester City.

Sedikitnya, hingga akhir musim ada selisih dua angka atau satu angka mau Arsenal mencetak 100 gol sekalipun tidak akan bisa menjadikan mereka juara.

Liverpool akan memberikan kado terindah untuk Juergen Klopp diawali dengan menjadi juara Piala Liga Inggris dengan mengalahkan Chelsea di Wembley.

Mereka akan menampilkan permainan tim terbaik sepanjang masa dengan menjuarai Liga Inggris, Piala Eropa, dan Piala FA.

Bulan Mei 2024, Juergen Klopp gantung kursi kepelatihan dia untuk dilanjutkan dengan pelatih baru di musim depan.

Liverpool bertekad menyapu bersih semua kompetisi kejuaraan yang mereka ikuti.

Kala itu, Liverpool akan mengukir sejarah terhebat dengan menjadi juara di semua ajang yang diikutinya.

Dengan menjadi juara Piala Eropa misalnya, Liverpool dipastikan menempati posisi unggulan di Liga Champion musim depan bersama juara-juara lainnya.

Sementara itu, Manchester City bisa mengulang sukses musim lalu untuk menjadi juara Liga Champion meski itu misi yang terlalu sulit diwujudkan.

Walau demikian dengan hanya bermain seri melawan Chelsea membuat mereka drop di posisi tiga.

Jika mereka kembali seri apalagi kalah melawan Brentford, keunggulan prosentase prediksi pada tim ini akan merosot sangat tajam.

Selain itu penampilan mengesankan Liverpool dan luar biasa saat mereka melawan Aston Villa, Newcastle, dan Chelsea, musim ini.

Oleh karena itu, akan sangat sulit untuk menemukan terlalu banyak contoh di mana Liverpool mendominasi permainan sepanjang 90 menit. 

Total Liverpool hanya mengalami dua kekalahan di Premier League di musim ini.

Liverpool dipastikan juara jika mereka menyapu bersih semua pertandingan sisa di musim ini.

Performa Liverpool telah menunjukkan kekuatan tersembunyi yang ditunjukkan tim asuhan Jurgen Klopp setelah musim transisi yang diharapkan menjadi 'Liverpool 2.0′.

Fase Liverpool musim ini adalah fase kreatif karena pola 433, 442, 352, yang selama ini banyak dikenal telah dirombak sepenuhnya oleh sosok Juergen Klopp.

Liverpool akan banyak menjebak semua lawan mereka karena posisi kiper juga bisa menjadi penyerang seperti diwujudkan oleh Alisson Becker yang bisa mencetak gol dengan tandukannya.

Caomin Kelleher yang mempunyai posisi sebagai penyerang juga dijadikan sebagai kiper kedua untuk melapisi Alisson.

Dengan dua pertandingan terbaru, semuanya telah dimenangkan oleh Caomin Kelleher yang menggantikan Alisson Becker yang mengalami cedera di saat mereka melawan Arsenal.

Sebanyak dua kekalahan tersebut lebih sedikit dibandingkan siapa pun di liga menunjukkan performa Liverpool yang sangat impresif.

Kunci Liverpool di musim ini adalah menjebak semua lawan dengan strategi yang terukur di mana semua pemain bisa berganti posisi di sayap, tengah, lini pertahanan, dan lini serang sekaligus dalam satu build up sejak menit pertama sampai akhir.

Perpindahan posisi dengan cepat mengecoh lawan karena secara tiba-tiba Luis Diaz, Diego Jota, Darwin Nunez, Cody Gakpo, dan Mohamed Salah ada di posisi pertahanan, bahkan menjadi bek kiri, bek kanan, bek tengah, sampai menjadi kiper.

Meski sejumlah enam hasil imbang lebih menyakitkan daripada kekalahan bagi Liverpool musim ini jika mereka gagal menjadi juara dengan hanya terpaut selisih gol saja.

Namun, sangat sulit mengganti Liverpool di posisi puncak jika mereka membantai semua lawannya di sisa 13 laga lagi.

Mereka akan mengawali perjalanan musim ini dengan mengalahkan Chelsea di Piala Liga di Wembley.

Chelsea bukan lawan mudah seperti juga semua lawan Liverpool lainnya adalah lawan berat.

Sehingga, Liverpool memperlakukan semua lawan sebagai lawan tangguh dan sangat berbahaya.

Baca Juga: Pilpres Kotor Menunjukkan Pemilu Indonesia Manipulatif dan Penuh Nafsu Kecurangan dan Mempermalukan Rezim dalam Sorotan Internasional

Keperkasaan Liverpool juga masih diuji di Piala Eropa karena fase berikutnya bisa menghadapi lawan tangguh termasuk salah satunya AC Milan.

Bisa jadi keduanya bertemu di partai final, tapi bisa juga sebelumnya karena undian babak fase gugur.

Apalagi setelah mereka banyak menderita kekalahan di Premier League termasuk keok di kancah Piala Liga Inggris dan tersingkir sejak awal.

Liverpool hanya menderita satu kekalahan pada 2018-19 dan dua kekalahan pada 2021-22 menjadikan Liverpool menjadi tim yang paling sedikit di antara semua tim pada musim itu.

Namun, musim itu mereka menerima masing-masing tujuh kali dan delapan kali hasil imbang, sehingga dengan mendapatkan sejumlah hasil seri bisa membahayakan posisi Liverpool musim ini.

Karena itu, wajib menang di sisa pertandingan musim ini wajib diwujudkan.

Dengan selisih satu poin saja memastikan Liverpool sebagai juara 20 kali apa pun hasil 19 tim lainnya untuk memenangkan semua pertandingan mereka, posisi Liverpool tetap juara.

Baca Juga: Bikin Gemes Netizen, Tingkah Laku Bobby Kertanegara Saat Ada Tamu Dari Duta Besar Tiongkok Berkunjung Ke Kediaman Prabowo

Selain penampilan mengesankan dan luar biasa saat mereka melawan Aston Villa, Newcastle, dan Chelsea musim ini, sulit untuk menemukan terlalu banyak contoh di mana Liverpool mendominasi permainan sepanjang 90 menit.

Belum penampilan luar biasa Liverpool di sejumlah pertandingan lainnya.

Kembalinya mereka ke pendekatan transisi yang dibangun di atas “kekacauan terorganisir” dipenuhi dengan hal-hal positif karena rata-rata Liverpool melakukan 4,3 serangan langsung mematikan.

Transisi Liverpool yang merupakan penguasaan bola yang dimulai di bagian pertahanan tim dan menghasilkan tembakan atau sentuhan di dalam area penalti lawan.

15 detik per pertandingan adalah yang tertinggi di liga karena mereka memaksimalkan kecepatan dan kekuatan lini depan yang berputar.

Namun demikian, ada serangan alami yang kasar yang diperkenalkan kembali oleh Klopp, dengan hanya Everton dan Newcastle yang kebobolan lebih banyak serangan langsung daripada Liverpool, yaitu 3,2 per pertandingan musim ini.

Liverpool membuka permainan ke depan, tapi mereka tidak selalu menutupnya ketika mereka kehilangan bola,  yang berarti tim terus mendapatkan peluang yang menguntungkan.

Baca Juga: Fotografer Darwis Triadi Menista Ibu Sumarsih di Tengah Perjuangan Tak Kenal Lelah Sejak 1998 Mencari Keadilan Rupanya Cuma Proyek Foto Presiden Parah

Beberapa penjaga gawang yang baik, ditambah dengan beberapa penyelesaian akhir yang buruk, sering kali menyelamatkan Liverpool dari kebobolan.

Meski memberikan peluang yang layak untuk 1,2 gol per pertandingan musim ini (berdasarkan gol yang diharapkan, xG, metrik).

Arsenal dan City keduanya kebobolan kurang dari 1,0 xG per pertandingan.

Jika ada klub yang bisa menyalurkan bulan-bulan penuh emosi ke dalam energi positif di lapangan, Liverpool asuhan Klopp kemungkinan besar akan melakukannya.

Anfield akan siap menghadapi pertandingan besar melawan City pada bulan Maret, namun di sekitar pertandingan tersebut terdapat beberapa pertandingan yang cukup mudah.

Di antara sekarang dan akhir April, sementara itu jadwal pertandingan City pada periode tersebut terlihat buruk dan bisa mengerikan karena mereka sangat tertekan untuk bisa menang.

Pemain belia Conor Bradley menjadi salah satu andalan Liverpool di paruh musim ini dengan penampilan memukau dia di kala melewati tim tangguh di Liga Inggris.

Bahkan dirinya bisa menjelma menjadi bintang besar seperti pendulu dia, Arnold.

 

Fenomena Liverpool dengan skema dinamis berhasil mengecoh semua lawannya seperti skema 433, 343, 352, 4411, 3214, 2511, atau banyak skema lain dimainkan Juergen Klopp dengan misi bertahan dan ancaman penyerangan yang mematikan ke barisan pertahanan lawan yang kocar kacir.

Belum ada tim lawan yang bisa menandingi perpindahan pemain ala Liverpool yang sangat cepat dan terorganisasi dengan baik.

Skema dinamis Liverpool yang Mencengangkan

Strategi serangan alami yang tangguh yang diperkenalkan kembali oleh Klopp, dengan hanya Everton dan Newcastle yang kebobolan lebih banyak.

Sistem serangan langsung Liverpool mempunyai risiko yaitu 3,2 per pertandingan musim ini.

Liverpool membuka permainan ke depan, tapi tidak selalu menutupnya ketika mereka kehilangan bola, yang berarti tim terus mendapatkan peluang yang menguntungkan.

Ada beberapa penjaga gawang yang baik, ditambah dengan beberapa penyelesaian akhir yang buruk dari lawan seringkali menyelamatkan Liverpool.

Meski memberikan peluang yang layak untuk 1,2 gol per pertandingan musim ini (berdasarkan gol yang diharapkan berbuah gol, xG, metrik).

Arsenal dan City keduanya kebobolan kurang dari 1,0 xG per pertandingan.

Jika ada klub yang bisa menyalurkan bulan-bulan penuh emosi ke dalam energi positif di lapangan, Liverpool asuhan Klopp kemungkinan besar akan melakukannya.

Anfield akan siap menghadapi pertandingan besar melawan City pada bulan Maret, namun di sekitar pertandingan tersebut terdapat beberapa pertandingan yang cukup mudah antara sekarang dan akhir April – sementara jadwal pertandingan City pada periode tersebut terlihat buruk, setidaknya.

Pertandingan sisa Arsenal

Opta mungkin masih memberi City keunggulan dalam perebutan gelar, tapi tampaknya untuk terakhir kalinya di Liverpool, Klopp akan terus menekan dan mendorong Guardiola ke hari terakhir.

Pada tahap ini musim lalu, setelah 24 pertandingan, pertarungan seru Arsenal dengan City asuhan Guardiola baru saja mencapai puncak pertamanya.

Tiga hari setelah kekalahan telak dari rival mereka, tembakan Jorginho membentur mistar gawang pada menit ketiga masa tambahan waktu.

Mereka sukses melalui bagian belakang kepala Emiliano Martinez untuk membantu meraih kemenangan penting dan dramatis atas Aston Villa, yang menjadi tim kuat di bawah Unai Emery.

Kali ini, selain atmosfer Emirates dan perayaan liar, pendekatan Arsenal terhadap pertandingan ini terasa lebih berkelanjutan, bahkan jika mereka memulai dengan tertinggal beberapa poin.

Sejak mini-blip tiga pertandingan membuat tim asuhan Mikel Arteta turun di bawah rival gelar mereka di klaemen.

Arsenal telah mengumpulkan 11,5 xG dan hanya kebobolan 1,4. Empat kemenangan berturut-turut, termasuk 6-0, 5-0, dan penampilan dominan untuk menetralisir kehebatan Liverpool, dua minggu lalu.

Hal itu menunjukkan kualitas dan kontrol yang sulit dipertahankan oleh tim London utara sepanjang kesempatan terakhir mereka di Premier League.

Ini adalah performa yang dibangun di atas fondasi pertahanan yang kokoh, dengan sistem counter-pressing agresif Arteta yang berkembang pesat dengan suntikan atletis ke lini tengah.

Declan Rice telah menutupi banyak ruang di depan pertahanan sementara Martin Odegaard dan Kai Havertz telah bekerja tanpa lelah untuk membantu Arsenal menjadi salah satu tim dengan tekanan tinggi terbaik di Eropa.

Seperti yang diilustrasikan grafik di bawah ini, hal ini berarti keamanan di masa lalu. Dari semua rangkaian umpan terbuka yang dihadapi Arsenal musim ini, hanya 32,1 persen yang mencapai sepertiga pertahanan mereka, dengan rangkaian tersebut setara dengan jumlah gol yang diharapkan paling sedikit.

Peningkatan ini membuat Arsenal punya tawaran berbeda di laga besar.

Dua dari lima penghitungan xG terendah di seluruh masa pemerintahan Guardiola terjadi saat melawan tim Arteta pada tahun lalu, termasuk total hanya 0,51 di Etihad musim lalu di Piala FA.

Arsenal mampu mendominasi pertandingan yang seharusnya mereka menangkan.

Sebuah lawatan ke Burnley dan Sheffield United dalam dua minggu ke depan harus dilihat sebagai kemenangan yang tidak bisa ditawar, tapi jika mereka bisa mencapai 31 Maret dengan cita-cita meraih gelar, maka mereka mungkin saja akan menang.

Kondisi yang membuat segalanya menjadi menarik saat tiga tim unggulan Liga Premier memasuki babak final berturut-turut.

Ramalan Opta tidak memberikan terlalu banyak peluang bagi Arsenal, tapi mereka tidak bisa dikesampingkan jika mereka terus mempertahankannya dengan gemilang.

Mereka yang berada di luar Liga Premier mungkin akan mencemooh dominasi yang ditunjukkan Manchester City dalam beberapa musim terakhir, mengklaim lima gelar dalam enam musim terakhir.

Namun, perlu dicatat bahwa musim ini kemungkinan akan menjadi musim dengan perolehan poin terendah sejak kemenangan Leicester City yang belum pernah terjadi sebelumnya pada musim 2015-16.

Mengapa?

Karena persaingan di liga lebih banyak, bukan lebih sedikit.

Apa pun hasilnya, kita punya tiga penantang gelar yang akan saling mencakar, merobek, dan mendorong satu sama lain untuk meraih trofi Premier League di bulan Mei.

Lantas siapa yang difavoritkan untuk meraih gelar?

Salah satu cara untuk menjawabnya adalah dengan menggunakan prediksi tabel liga Opta, yang memproyeksikan klasemen akhir dengan memrediksi hasil sisa pertandingan masing-masing tim berdasarkan kekuatan masing-masing tim dan menyimulasikan setiap pertandingan tersebut ribuan kali untuk menghitung rata-rata perkiraan hasil akhir mereka.

Meski perkiraan itu jelas harus direvisi setidaknya dengan hasil terakhir di mana Arsenal meraih kemenangan besar dengan mencetak lima gol sementara Liverpool mencetak empat gol.

Beberapa penjaga gawang yang baik, ditambah dengan beberapa penyelesaian akhir yang buruk, sering kali menyelamatkan Liverpool meski memberikan peluang yang layak untuk 1,2 gol per pertandingan musim ini (berdasarkan gol yang diharapkan, xG, metrik).

Arsenal dan City keduanya kebobolan kurang dari 1,0 xG per pertandingan.

Baca Juga: OSO Geram dengan Berbagai Kecurangan di Pemilu 2024: Ini Pemilu Gila

Ini adalah performa yang dibangun di atas fondasi pertahanan yang kokoh, dengan sistem counter-pressing agresif Arteta yang berkembang pesat dengan suntikan atletis ke lini tengah.

Declan Rice telah menutupi banyak ruang di depan pertahanan sementara Martin Odegaard dan Kai Havertz telah bekerja tanpa lelah untuk membantu Arsenal menjadi salah satu tim dengan tekanan tinggi terbaik di Eropa.

Seperti yang diilustrasikan grafik Arsenal, hal ini berarti keamanan di masa lalu.

Dari semua rangkaian umpan terbuka yang dihadapi Arsenal musim ini, hanya 32,1 persen yang mencapai sepertiga pertahanan mereka, dengan rangkaian tersebut setara dengan jumlah gol yang diharapkan paling sedikit.

Peningkatan ini membuat Arsenal punya tawaran berbeda di laga besar.

Dua dari lima penghitungan xG terendah di seluruh masa pemerintahan Guardiola terjadi saat melawan tim Arteta pada tahun lalu, termasuk total hanya 0,51 di Etihad musim lalu di Piala FA.

Sisa pertandingan Manchester City 

Sedangkan tim peringkat tiga, Manchester City dianggap bisa sangat mengancam Arsenal dan Liverpool yang ada di atas mereka.

Mungkin City bisa memenangkan semua pertandingan sisa musim ini, tapi pertandingan melawan Chelsea meruntuhkan harapan dan prediksi sejumlah kalangan.

Memang dianggap hanya selisih dua poin yang memisahkan tiga besar dengan sepertiga musim tersisa.

Namun, hanya selisih satu angka juga tidak akan menjadikan tim di bawahnya akan bisa menjadi juara.

Selisih gol dengan perolehan angka yang sama bisa menentukan jika saja Arsenal dan Manchester City bisa menyamai poin Liverpool.

Sebuah misi yang terlalu sulit apalagi buat Arsenal, yang masih bermain di Liga Champion meski mereka dianggap masih bisa lolos dari fase 16 besar.

Ujian melawan Porto di pekan ini menjadi ujian yang sulit karena Porto kerap menyulitkan apalagi di Liga Champion.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, sepertinya kita akan menghadapi perlombaan tiga kuda yang tepat.

Hanya ada masalah kecil yang mungkin ingin dibagikan seseorang kepada Guardiola, Klopp, dan Arteta, tiga orang tidak bisa menjadi satu.

Ramalan Opta tidak memberikan terlalu banyak peluang bagi Arsenal, tetapi mereka tidak bisa dikesampingkan jika mereka terus mempertahankannya dengan gemilang.

Mereka yang berada di luar Liga Premier mungkin akan mencemooh dominasi yang ditunjukkan Manchester City dalam beberapa musim terakhir, mengklaim lima gelar dalam enam musim terakhir.

Namun, perlu dicatat bahwa musim ini kemungkinan akan menjadi musim dengan perolehan poin terendah sejak kemenangan Leicester City yang belum pernah terjadi sebelumnya pada musim 2015-16.

Di sisi lain, Manchester City sangat beruntung akhirnya tidak kalah di tangan Chelsea.

Mereka hanya bisa bermain 1-1 padahal OPTA juga menempatkan mereka bisa meraih angka penuh.

Model Opta sebelum pertandingan melawan Chelsea memang memberi tim asuhan Pep Guardiola peluang 65 persen untuk memenangkan gelar Premier League keempat berturut-turut.

Situasi yang menjadikan mereka favorit dibandingkan Liverpool (25 persen) dan Arsenal (10 persen).

Namun, OPTA belum memperbaiki perkiraan mereka setelah pertempuran terakhir Manchester City.

Tim ini akan menghadapi lawan berat di antaranya Manchester United, Tottenham, dan Liverpool.

Tim ini tahu cara merangkai beberapa hasil dan jika bukti sebelumnya bisa diandalkan, City mulai bersiap untuk meraih gelar di musim semi.

Jika Brentford bisa memetik angka penuh saat melawan Manchester City, diprediksi musim ini Manchester City bukan lagi unggulan sebagai kandidat juara.

Bahkan seri melawan Brentford bisa saja terjadi karena Manchester City masih belum sepenuhnya stabil dan terlalu panik melihat keberhasilan Liverpool dan Arsenal yang mengalahkan sejumlah lawan berat mereka.

Baca Juga: Kylian Mbappe Berlabuh ke Real Madrid, Tanda Tangani Kontrak Berdurasi Lima Tahun

Erling Haaland kembali bugar dengan dua golnya melawan Everton akhir pekan lalu sementara Kevin De Bruyne telah mencatatkan dua gol dan enam assist dalam 366 menit atau selama hampir empat pertandingan penuh sejak kembalinya ia yang telah lama ditunggu-tunggu dari cedera hamstring.

Kata tidak menyenangkan muncul di benak analis.

Meski begitu, jadwal pertandingan yang padat tidak akan membuat segalanya menjadi mudah bagi sang juara bertahan.

Gol ketiga di menit-menit akhir di Kopenhagen pada hari Selasa, untuk membawa keunggulan dua gol ke leg kedua.

Sebuah jadwal yang terjepit antara Derby Manchester dan perjalanan ke Anfield, akan menjadi penyebab kepuasan tersendiri di bangku cadangan City.

Meski semua prediksi akan buyar setelah Manchester City mandul saat melawan Chelsea yang selalu menyulitkan mereka di saat melawat di Stamford Bridge dan saat bertandang ke Etihad.

Meski begitu, rangkaian lima pertandingan berturut-turut melawan tim tangguh akan memberikan ujian ketat terhadap pertahanan yang lebih lemah dari biasanya, termasuk perjalanan ke Anfield.

Di mana mereka hanya menang sekali dalam 20 tahun dan kunjungan dua tim yang pernah menang, yang mengalahkan mereka musim ini di perebutan gelar adalah Arsenal dan Aston Villa.

Jika mereka terus kebobolan dari tembakan tepat sasaran pertama yang mereka hadapi, seperti yang mereka lakukan untuk ke-13 kalinya musim ini di Denmark, mereka menempatkan diri mereka dalam bahaya memulai pertandingan besar dengan tertinggal lebih dulu.

Konsentrasi yang terpecah juga menjadikan Manchester City tidak bisa fokus pada Premier League atau Liga Champion.

Kembalinya De Bruyne ke dunia kreatif yang jenius telah membuat Phil Foden diam-diam menjauhi peran sentralnya, tetapi pemain berusia 23 tahun itu tampil bersama pemain Belgia itu.

Dia bisa mencetak hattrick dari peran nomor 8 di sisi kiri melawan Brentford, sebelum melakukan kombinasi yang menghancurkan. dengan De Bruyne di sayap kanan di Liga Champions yang menunjukkan bahwa Foden akan memiliki sedikit masalah dalam mempertahankan tempatnya di tim dan bisa dibilang adalah performa terbaik dalam karirnya.

Fleksibilitas yang berputar-putar dan sepak bola yang secara teknis sempurna: itulah yang dilakukan City.

Sulitnya jadwal mereka membuat gelar Liga Premier keempat berturut-turut masih jauh dari harapan, tetapi raksasa asuhan Guardiola tampak siap untuk menghadapinya seperti biasa.