TOKOH Strategi Komunikasi Krisis Gofar Hilman dalam Menghadapi Fenomena Cancel Culture
Pada pertengahan tahun 2021, dunia media
sosial Indonesia digemparkan oleh tuduhan pelecehan seksual yang ditujukan
kepada Gofar Hilman, seorang penyiar radio dan kreator konten ternama. Tuduhan
ini muncul pertama kali dari sebuah akun anonim di Twitter yang mengklaim
pernah mengalami kekerasan seksual dari Gofar dalam sebuah acara publik di
Malang, Jawa Timur. Dalam cuitannya, akun tersebut menyatakan bahwa insiden
terjadi ketika banyak orang berada di sekitar lokasi, namun tidak menyadari
peristiwa tersebut karena suasana pesta yang bising. Cuitan itu dengan cepat
viral dan memicu gelombang cancel culture yang luar biasa di kalangan warganet.
Dalam waktu singkat, berbagai pihak mulai menarik diri, termasuk brand yang
selama ini menjadi sponsor atau mitra kerja Gofar. Ia juga mengundurkan diri
dari Goodnight Electric dan menyatakan keluar dari berbagai proyek yang sedang
berjalan.
Fenomena ini menunjukkan betapa cepat
dan masif dampak reputasi di era digital, terutama ketika publik memosisikan
diri sebagai aktor yang aktif dalam menentukan batas moral dan sosial. Dalam
ilmu komunikasi krisis, peristiwa seperti ini dapat dikategorikan sebagai
bentuk krisis reputasi personal, dimana persepsi publik terhadap karakter dan
integritas seseorang mengalami guncangan. Menurut Coombs (2007) dalam
Situational Crisis Communication Theory (SCCT), tingkat tanggung jawab yang
dilekatkan publik kepada individu atau organisasi dalam suatu krisis sangat
menentukan risiko terhadap reputasi. Dalam kasus Gofar Hilman, persepsi tentang
keterlibatan langsung dalam tuduhan menjadi faktor penting yang memengaruhi
besarnya tekanan sosial yang muncul. Hal ini menunjukkan bagaimana krisis bukan
hanya persoalan fakta, melainkan juga hasil konstruksi sosial yang dibentuk
melalui opini kolektif di media sosial. Dalam kajian Krisnani (2020), strategi
komunikasi krisis yang mengutamakan empati dan partisipasi publik menjadi
krusial untuk meredam dampak eskalatif dari wacana digital yang tidak
terkendali. Penelitiannya tentang dinamika komunikasi tokoh publik dalam
situasi krisis menunjukkan bahwa komunikasi yang berfokus pada klarifikasi
terukur dan narasi moral dapat menjadi jalan menuju pemulihan jangka panjang,
meskipun prosesnya memerlukan waktu dan konsistensi.
Respon awal terhadap krisis menjadi
tahap kritis dalam strategi komunikasi krisis. Dalam pernyataan publiknya,
Gofar menegaskan bahwa ia tidak melakukan tindakan sebagaimana dituduhkan,
namun tetap menyampaikan penghormatan kepada suara yang disampaikan oleh pihak
lain. Pendekatan ini dapat dibaca sebagai upaya mempertahankan narasi pribadi
sekaligus menghindari konfrontasi langsung. Dalam kerangka teori komunikasi
krisis, respons ini cenderung berada dalam wilayah diminish strategy, yakni
strategi untuk meredam persepsi negatif tanpa secara eksplisit mengakui
kesalahan. Namun demikian, efektivitas strategi tersebut sangat dipengaruhi
oleh persepsi publik, yang dalam situasi ini sebagian menganggapnya tidak cukup
transparan atau meyakinkan.
Gofar Hilman kemudian mengambil
serangkaian langkah untuk merespons krisis ini secara bertahap. Pertama, ia
segera menyatakan mundur dari berbagai posisi publik yang dapat memperkeruh
situasi, termasuk keanggotaannya di band Goodnight Electric dan sejumlah proyek
bisnis lain yang melibatkan brand-brand besar. Langkah ini mencerminkan upaya
untuk mengurangi eksposur publik dan melindungi mitra kerjanya dari potensi
kerugian reputasi. Kedua, ia memilih untuk melakukan media silence dalam waktu
cukup panjang, yakni menghindari publikasi konten maupun komentar tambahan
hingga situasi mereda. Strategi ini dikenal dalam teori komunikasi krisis
sebagai stand-by strategy, yaitu menunggu momen yang lebih tepat untuk
menyampaikan pesan yang dapat diterima publik.
Langkah ketiga, Gofar memulai proses
komunikasi kembali secara perlahan melalui kanal pribadinya di YouTube dan
podcast. Dalam beberapa episode, ia membagikan cerita-cerita personal dan
refleksi diri, namun tetap tidak secara eksplisit membahas isu yang menimpanya.
Dengan tetap menjaga sikap netral dan tidak konfrontatif, ia membangun citra
baru sebagai pribadi yang lebih introspektif. Keempat, Gofar juga memperluas
jenis konten yang ia produksi, seperti membahas isu kebudayaan, musik lokal,
dan wawancara tokoh-tokoh muda. Ini menjadi bagian dari image rebuilding,
dimana ia menekankan sisi kontribusi positifnya terhadap komunitas. Terakhir,
Gofar secara konsisten menjaga tone komunikasinya agar tetap merangkul, tidak
memprovokasi, serta lebih fokus pada masa depan.
Dalam teori Image Restoration yang
dikemukakan oleh Benoit (1997), strategi semacam ini tergolong dalam corrective
action dan reducing offensiveness, yaitu dengan menunjukkan kontribusi yang
berkelanjutan untuk membentuk persepsi baru yang lebih positif. Pendekatan ini
juga menunjukkan bagaimana tokoh publik dapat memanfaatkan media sosial tidak
hanya sebagai saluran klarifikasi, tetapi juga sebagai media rehabilitasi citra
dengan membangun relasi emosional yang lebih dalam dengan audiens. Lebih
lanjut, studi Herawati (2023) tentang efek cancel culture terhadap reputasi
selebritas Indonesia menekankan bahwa pembentukan persepsi publik sangat
dipengaruhi oleh respons awal dan bentuk narasi yang dibangun. Dalam
analisisnya, Herawati menguraikan bahwa narasi penebusan (redemptive narrative)
yang dilakukan melalui kanal personal seperti YouTube dan podcast mampu
memberikan ruang aman bagi tokoh publik untuk merekonstruksi citranya secara
lebih intim dan bertahap. Dalam konteks ini, langkah Gofar membangun konten reflektif
dan non-konfrontatif merupakan bentuk aktualisasi strategi pemulihan yang
adaptif dengan lanskap media sosial saat ini.
Media sosial dalam konteks ini memegang
peran ganda: sebagai ruang penyebaran krisis sekaligus wadah pemulihan. Seperti
yang dikemukakan oleh Austin dan Jin (2017), media sosial merupakan medan utama
dalam krisis modern karena karakteristiknya yang interaktif, cepat, dan
terdesentralisasi. Ketika krisis terjadi, media sosial menjadi arena dimana
narasi bersaing satu sama lain. Publik dapat mendistribusikan informasi,
membentuk opini, dan menekan individu maupun institusi secara langsung. Namun
dalam fase pemulihan, platform yang sama dapat digunakan untuk membangun narasi
alternatif, menampilkan sisi kemanusiaan, serta membuka ruang dialog yang
sebelumnya tertutup oleh gelombang kecaman.
Respons publik terhadap krisis yang
menimpa figur seperti Gofar Hilman juga mencerminkan nilai-nilai budaya dan
moral yang hidup dalam masyarakat digital. Di satu sisi, terdapat tuntutan
terhadap transparansi, akuntabilitas, dan empati yang tinggi dari tokoh publik.
Di sisi lain, terdapat pula dinamika resistensi terhadap budaya cancel yang
dianggap terlalu menghukum sebelum ada proses klarifikasi atau penyelesaian
hukum. Dalam hal ini, diskursus publik mencerminkan ketegangan antara prinsip
keadilan sosial dan hak atas pembelaan diri. Perspektif ini sejalan dengan
pandangan Hearit (2006) bahwa retorika krisis yang berhasil harus mampu
menjembatani ekspektasi etis publik dengan kebutuhan untuk melindungi
integritas individu atau organisasi.
Narasi penebusan atau redemptive
narrative menjadi salah satu strategi penting dalam komunikasi pasca-krisis.
Tokoh publik dapat memilih untuk memperlihatkan perjalanan personal yang
menunjukkan pembelajaran, perubahan, dan komitmen baru terhadap nilai-nilai sosial.
Narasi ini bukan semata-mata bertujuan untuk memulihkan citra, tetapi juga
untuk membangun kembali kepercayaan dalam hubungan antara publik dan figur yang
bersangkutan. Dalam beberapa kasus, seperti Gofar, pendekatan ini dilakukan
melalui karya kreatif, dialog terbuka, dan konsistensi dalam membangun reputasi
baru yang lebih berhati-hati.
Hingga saat ini, Gofar Hilman telah
kembali aktif di media sosial dan kanal podcastnya di YouTube. Ia juga muncul
di berbagai proyek kolaborasi kreatif, termasuk program hiburan yang menyasar
komunitas muda. Meskipun tidak semua publik menerima kehadirannya seperti
sebelumnya, ia tetap memiliki audiens yang loyal, khususnya dari kalangan
pendengar lama yang mengikuti perjalanan kariernya sejak awal. Narasi penebusan
yang ia bangun bersifat non-konfrontatif dan mengedepankan konten berbasis
pengalaman hidup dan budaya populer. Dari perspektif komunikasi strategis, ini
menunjukkan upaya jangka panjang dalam membangun kembali kepercayaan publik
tanpa memaksakan rehabilitasi secara agresif.
Pelajaran yang dapat diambil dari kasus
ini adalah pentingnya kepekaan dalam mengelola komunikasi saat menghadapi
krisis di ruang digital. Respons yang cepat, akurat, dan empatik menjadi dasar
yang tak bisa diabaikan. Selain itu, tokoh publik perlu memahami bahwa dalam
era keterbukaan informasi, publik bukan hanya audiens pasif, tetapi juga aktor
aktif yang membentuk narasi bersama. Oleh karena itu, strategi komunikasi
krisis yang efektif tidak cukup hanya mengandalkan klarifikasi, tetapi juga
memerlukan narasi yang mengandung refleksi, komitmen perubahan, dan dialog yang
berkelanjutan.
Penanganan krisis reputasi pada akhirnya
tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya dimana krisis itu
berlangsung. Kasus Gofar Hilman memperlihatkan bahwa reputasi yang dibangun
bertahun-tahun dapat terguncang dalam hitungan hari, namun proses pemulihannya
memerlukan waktu, ketekunan, dan komunikasi yang jujur. Dalam dunia yang kian
digital dan interaktif, strategi komunikasi krisis harus bersifat adaptif,
inklusif, dan etis. Baik bagi tokoh publik maupun institusi, membangun
kepercayaan adalah pekerjaan berkelanjutan yang melampaui satu krisis tunggal.
Referensi:
·
Afiyan,
G. A. (2024, Oktober 6). Kontroversi dan proses pemulihan Gofar Hilman dari isu
cancel culture. Hops.ID. https://www.hops.id/hot/29413683323/kontroversi-dan-proses-pemulihan-gofar-hilman-dari-isu-cancel-culture
·
Austin,
L. L., & Jin, Y. (2017). Social media and crisis communication.
Routledge.
·
Benoit,
W. L. (1997). Image repair discourse and crisis communication. Public
Relations Review, 23(2), 177–186.
·
Bisnis.com.
(2024, August 29). Driver Ojol demo serentak: Tuntut evaluasi tarif, Gojek Cs
buka suara. https://ekonomi.bisnis.com/read/20240829/98/1795104
·
Bloomberg
Technoz. (2024, August 29). Demo Ojol 29 Agustus: 1.000 driver, matikan orderan
online. https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/47555/demo-ojol-29-agustus-1-000-driver-matikan-orderan-online
·
Coombs,
W. T. (2007). Protecting organization reputations during a crisis: The
development and application of Situational Crisis Communication Theory. Corporate
Reputation Review, 10(3), 163–176.
·
Coombs,
W. T. (2021). Ongoing crisis communication: Planning, managing, and
responding (6th ed.). SAGE Publications.
·
Detikinet.
(2024, August 29). Demo Ojol 29 Agustus 2024, netizen gelisah susah pulang. https://inet.detik.com/cyberlife/d-7515075
·
Hearit,
K. M. (2006). Crisis management by apology: Corporate response to
allegations of wrongdoing. Lawrence Erlbaum Associates.
·
Herawati,
E. (2023). Cancel culture dan strategi pemulihan citra selebritas Indonesia di
era digital. Jurnal Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), 5(1),
1–15. https://doi.org/10.33175/jkom.v5i1.19574
·
Jin,
Y., Liu, B. F., & Austin, L. (2014). Examining the role of social media in
effective crisis communication: The effects of crisis origin, information form,
and source on publics’ crisis responses. Communication Research, 41(1),
74–94.
·
Kris,
D. (2021, Juni 9). Hadiri acara di Malang, aktor Gofar Hilman dituduh lakukan
pelecehan seksual. Jatim Times. https://jatimtimes.com/baca/243145/20210609/094900/hadiri-acara-di-malang-aktor-gofar-hilman-dituduh-lakukan-pelecehan-seksual
·
Krisnani,
N. (2020). Strategi komunikasi krisis tokoh publik di media sosial pada era
cancel culture. Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 18(2),
115–132. https://doi.org/10.33175/jikom.v18i2.105876
·
Liputan6.
(2024, August 29). Ribuan ojol dan kurir demo 29 Agustus 2024 protes potongan
tarif yang tak adil. https://www.liputan6.com/bisnis/read/5686388
·
Rahma,
S. (2021, Juni 9). Diduga lecehkan wanita di Malang, Gofar Hilman dihujat di
Twitter. Radar Malang. https://radarmalang.jawapos.com/lifestyle/811076417/diduga-lecehkan-wanita-di-malang-gofar-hilman-dihujat-di-twitter
·
Reuters.
(2024, August 29). Indonesian app-based taxi drivers strike in protest over low
pay. https://www.reuters.com/world/asia-pacific/indonesian-app-based-taxi-drivers-strike-protest-over-low-pay-2024-08-29/
·
Sanderson,
J., & Frederick, E. (2015). From apology to resistance: Crisis
communication in the age of social media. Journal of Sports Media, 10(1),
5–28.
·
Seeger,
M. W. (2006). Best practices in crisis communication: An expert panel process. Journal
of Applied Communication Research, 34(3), 232–244.
·
Tempo.co.
(2021). Pengguna Twitter mengaku Gofar Hilman melecehkannya di Malang. Tempo.
https://www.tempo.co/hiburan/pengguna-twitter-mengaku-gofar-hilman-melecehkannya-di-malang-tiga-tahun-lalu-505913
·
The
Jakarta Post. (2022, Februari 15). Gofar Hilman denies coercing accuser to
apologize. The Jakarta Post. https://www.thejakartapost.com/culture/2022/02/15/gofar-hilman-denies-coercing-accuser-to-apologize.html
· Wardani, R. (2024, Oktober 7). Cerita Gofar Hilman kena cancel culture imbas tuduhan pelecehan seksual. iNews. https://www.inews.id/lifestyle/seleb/cerita-gofar-hilman-kena-cancel-culture-imbas-tuduhan-pelecehan-seksual
(Erliyana Ine Puspitasari)
(Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila)

