X

TOKOH Strategi Komunikasi Krisis Gofar Hilman dalam Menghadapi Fenomena Cancel Culture

16 Juli 2025 15:45 | Oleh Tim DKYLB 01

Pada pertengahan tahun 2021, dunia media sosial Indonesia digemparkan oleh tuduhan pelecehan seksual yang ditujukan kepada Gofar Hilman, seorang penyiar radio dan kreator konten ternama. Tuduhan ini muncul pertama kali dari sebuah akun anonim di Twitter yang mengklaim pernah mengalami kekerasan seksual dari Gofar dalam sebuah acara publik di Malang, Jawa Timur. Dalam cuitannya, akun tersebut menyatakan bahwa insiden terjadi ketika banyak orang berada di sekitar lokasi, namun tidak menyadari peristiwa tersebut karena suasana pesta yang bising. Cuitan itu dengan cepat viral dan memicu gelombang cancel culture yang luar biasa di kalangan warganet. Dalam waktu singkat, berbagai pihak mulai menarik diri, termasuk brand yang selama ini menjadi sponsor atau mitra kerja Gofar. Ia juga mengundurkan diri dari Goodnight Electric dan menyatakan keluar dari berbagai proyek yang sedang berjalan.

Fenomena ini menunjukkan betapa cepat dan masif dampak reputasi di era digital, terutama ketika publik memosisikan diri sebagai aktor yang aktif dalam menentukan batas moral dan sosial. Dalam ilmu komunikasi krisis, peristiwa seperti ini dapat dikategorikan sebagai bentuk krisis reputasi personal, dimana persepsi publik terhadap karakter dan integritas seseorang mengalami guncangan. Menurut Coombs (2007) dalam Situational Crisis Communication Theory (SCCT), tingkat tanggung jawab yang dilekatkan publik kepada individu atau organisasi dalam suatu krisis sangat menentukan risiko terhadap reputasi. Dalam kasus Gofar Hilman, persepsi tentang keterlibatan langsung dalam tuduhan menjadi faktor penting yang memengaruhi besarnya tekanan sosial yang muncul. Hal ini menunjukkan bagaimana krisis bukan hanya persoalan fakta, melainkan juga hasil konstruksi sosial yang dibentuk melalui opini kolektif di media sosial. Dalam kajian Krisnani (2020), strategi komunikasi krisis yang mengutamakan empati dan partisipasi publik menjadi krusial untuk meredam dampak eskalatif dari wacana digital yang tidak terkendali. Penelitiannya tentang dinamika komunikasi tokoh publik dalam situasi krisis menunjukkan bahwa komunikasi yang berfokus pada klarifikasi terukur dan narasi moral dapat menjadi jalan menuju pemulihan jangka panjang, meskipun prosesnya memerlukan waktu dan konsistensi.

Respon awal terhadap krisis menjadi tahap kritis dalam strategi komunikasi krisis. Dalam pernyataan publiknya, Gofar menegaskan bahwa ia tidak melakukan tindakan sebagaimana dituduhkan, namun tetap menyampaikan penghormatan kepada suara yang disampaikan oleh pihak lain. Pendekatan ini dapat dibaca sebagai upaya mempertahankan narasi pribadi sekaligus menghindari konfrontasi langsung. Dalam kerangka teori komunikasi krisis, respons ini cenderung berada dalam wilayah diminish strategy, yakni strategi untuk meredam persepsi negatif tanpa secara eksplisit mengakui kesalahan. Namun demikian, efektivitas strategi tersebut sangat dipengaruhi oleh persepsi publik, yang dalam situasi ini sebagian menganggapnya tidak cukup transparan atau meyakinkan.

Gofar Hilman kemudian mengambil serangkaian langkah untuk merespons krisis ini secara bertahap. Pertama, ia segera menyatakan mundur dari berbagai posisi publik yang dapat memperkeruh situasi, termasuk keanggotaannya di band Goodnight Electric dan sejumlah proyek bisnis lain yang melibatkan brand-brand besar. Langkah ini mencerminkan upaya untuk mengurangi eksposur publik dan melindungi mitra kerjanya dari potensi kerugian reputasi. Kedua, ia memilih untuk melakukan media silence dalam waktu cukup panjang, yakni menghindari publikasi konten maupun komentar tambahan hingga situasi mereda. Strategi ini dikenal dalam teori komunikasi krisis sebagai stand-by strategy, yaitu menunggu momen yang lebih tepat untuk menyampaikan pesan yang dapat diterima publik.

Langkah ketiga, Gofar memulai proses komunikasi kembali secara perlahan melalui kanal pribadinya di YouTube dan podcast. Dalam beberapa episode, ia membagikan cerita-cerita personal dan refleksi diri, namun tetap tidak secara eksplisit membahas isu yang menimpanya. Dengan tetap menjaga sikap netral dan tidak konfrontatif, ia membangun citra baru sebagai pribadi yang lebih introspektif. Keempat, Gofar juga memperluas jenis konten yang ia produksi, seperti membahas isu kebudayaan, musik lokal, dan wawancara tokoh-tokoh muda. Ini menjadi bagian dari image rebuilding, dimana ia menekankan sisi kontribusi positifnya terhadap komunitas. Terakhir, Gofar secara konsisten menjaga tone komunikasinya agar tetap merangkul, tidak memprovokasi, serta lebih fokus pada masa depan.

Dalam teori Image Restoration yang dikemukakan oleh Benoit (1997), strategi semacam ini tergolong dalam corrective action dan reducing offensiveness, yaitu dengan menunjukkan kontribusi yang berkelanjutan untuk membentuk persepsi baru yang lebih positif. Pendekatan ini juga menunjukkan bagaimana tokoh publik dapat memanfaatkan media sosial tidak hanya sebagai saluran klarifikasi, tetapi juga sebagai media rehabilitasi citra dengan membangun relasi emosional yang lebih dalam dengan audiens. Lebih lanjut, studi Herawati (2023) tentang efek cancel culture terhadap reputasi selebritas Indonesia menekankan bahwa pembentukan persepsi publik sangat dipengaruhi oleh respons awal dan bentuk narasi yang dibangun. Dalam analisisnya, Herawati menguraikan bahwa narasi penebusan (redemptive narrative) yang dilakukan melalui kanal personal seperti YouTube dan podcast mampu memberikan ruang aman bagi tokoh publik untuk merekonstruksi citranya secara lebih intim dan bertahap. Dalam konteks ini, langkah Gofar membangun konten reflektif dan non-konfrontatif merupakan bentuk aktualisasi strategi pemulihan yang adaptif dengan lanskap media sosial saat ini.

Media sosial dalam konteks ini memegang peran ganda: sebagai ruang penyebaran krisis sekaligus wadah pemulihan. Seperti yang dikemukakan oleh Austin dan Jin (2017), media sosial merupakan medan utama dalam krisis modern karena karakteristiknya yang interaktif, cepat, dan terdesentralisasi. Ketika krisis terjadi, media sosial menjadi arena dimana narasi bersaing satu sama lain. Publik dapat mendistribusikan informasi, membentuk opini, dan menekan individu maupun institusi secara langsung. Namun dalam fase pemulihan, platform yang sama dapat digunakan untuk membangun narasi alternatif, menampilkan sisi kemanusiaan, serta membuka ruang dialog yang sebelumnya tertutup oleh gelombang kecaman.

Respons publik terhadap krisis yang menimpa figur seperti Gofar Hilman juga mencerminkan nilai-nilai budaya dan moral yang hidup dalam masyarakat digital. Di satu sisi, terdapat tuntutan terhadap transparansi, akuntabilitas, dan empati yang tinggi dari tokoh publik. Di sisi lain, terdapat pula dinamika resistensi terhadap budaya cancel yang dianggap terlalu menghukum sebelum ada proses klarifikasi atau penyelesaian hukum. Dalam hal ini, diskursus publik mencerminkan ketegangan antara prinsip keadilan sosial dan hak atas pembelaan diri. Perspektif ini sejalan dengan pandangan Hearit (2006) bahwa retorika krisis yang berhasil harus mampu menjembatani ekspektasi etis publik dengan kebutuhan untuk melindungi integritas individu atau organisasi.

Narasi penebusan atau redemptive narrative menjadi salah satu strategi penting dalam komunikasi pasca-krisis. Tokoh publik dapat memilih untuk memperlihatkan perjalanan personal yang menunjukkan pembelajaran, perubahan, dan komitmen baru terhadap nilai-nilai sosial. Narasi ini bukan semata-mata bertujuan untuk memulihkan citra, tetapi juga untuk membangun kembali kepercayaan dalam hubungan antara publik dan figur yang bersangkutan. Dalam beberapa kasus, seperti Gofar, pendekatan ini dilakukan melalui karya kreatif, dialog terbuka, dan konsistensi dalam membangun reputasi baru yang lebih berhati-hati.

Hingga saat ini, Gofar Hilman telah kembali aktif di media sosial dan kanal podcastnya di YouTube. Ia juga muncul di berbagai proyek kolaborasi kreatif, termasuk program hiburan yang menyasar komunitas muda. Meskipun tidak semua publik menerima kehadirannya seperti sebelumnya, ia tetap memiliki audiens yang loyal, khususnya dari kalangan pendengar lama yang mengikuti perjalanan kariernya sejak awal. Narasi penebusan yang ia bangun bersifat non-konfrontatif dan mengedepankan konten berbasis pengalaman hidup dan budaya populer. Dari perspektif komunikasi strategis, ini menunjukkan upaya jangka panjang dalam membangun kembali kepercayaan publik tanpa memaksakan rehabilitasi secara agresif.

Pelajaran yang dapat diambil dari kasus ini adalah pentingnya kepekaan dalam mengelola komunikasi saat menghadapi krisis di ruang digital. Respons yang cepat, akurat, dan empatik menjadi dasar yang tak bisa diabaikan. Selain itu, tokoh publik perlu memahami bahwa dalam era keterbukaan informasi, publik bukan hanya audiens pasif, tetapi juga aktor aktif yang membentuk narasi bersama. Oleh karena itu, strategi komunikasi krisis yang efektif tidak cukup hanya mengandalkan klarifikasi, tetapi juga memerlukan narasi yang mengandung refleksi, komitmen perubahan, dan dialog yang berkelanjutan.

Penanganan krisis reputasi pada akhirnya tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya dimana krisis itu berlangsung. Kasus Gofar Hilman memperlihatkan bahwa reputasi yang dibangun bertahun-tahun dapat terguncang dalam hitungan hari, namun proses pemulihannya memerlukan waktu, ketekunan, dan komunikasi yang jujur. Dalam dunia yang kian digital dan interaktif, strategi komunikasi krisis harus bersifat adaptif, inklusif, dan etis. Baik bagi tokoh publik maupun institusi, membangun kepercayaan adalah pekerjaan berkelanjutan yang melampaui satu krisis tunggal.

Referensi:

·       Afiyan, G. A. (2024, Oktober 6). Kontroversi dan proses pemulihan Gofar Hilman dari isu cancel culture. Hops.ID. https://www.hops.id/hot/29413683323/kontroversi-dan-proses-pemulihan-gofar-hilman-dari-isu-cancel-culture

·       Austin, L. L., & Jin, Y. (2017). Social media and crisis communication. Routledge.

·       Benoit, W. L. (1997). Image repair discourse and crisis communication. Public Relations Review, 23(2), 177–186.

·       Bisnis.com. (2024, August 29). Driver Ojol demo serentak: Tuntut evaluasi tarif, Gojek Cs buka suara. https://ekonomi.bisnis.com/read/20240829/98/1795104

·       Bloomberg Technoz. (2024, August 29). Demo Ojol 29 Agustus: 1.000 driver, matikan orderan online. https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/47555/demo-ojol-29-agustus-1-000-driver-matikan-orderan-online

·       Coombs, W. T. (2007). Protecting organization reputations during a crisis: The development and application of Situational Crisis Communication Theory. Corporate Reputation Review, 10(3), 163–176.

·       Coombs, W. T. (2021). Ongoing crisis communication: Planning, managing, and responding (6th ed.). SAGE Publications.

·       Detikinet. (2024, August 29). Demo Ojol 29 Agustus 2024, netizen gelisah susah pulang. https://inet.detik.com/cyberlife/d-7515075

·       Hearit, K. M. (2006). Crisis management by apology: Corporate response to allegations of wrongdoing. Lawrence Erlbaum Associates.

·       Herawati, E. (2023). Cancel culture dan strategi pemulihan citra selebritas Indonesia di era digital. Jurnal Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), 5(1), 1–15. https://doi.org/10.33175/jkom.v5i1.19574

·       Jin, Y., Liu, B. F., & Austin, L. (2014). Examining the role of social media in effective crisis communication: The effects of crisis origin, information form, and source on publics’ crisis responses. Communication Research, 41(1), 74–94.

·       Kris, D. (2021, Juni 9). Hadiri acara di Malang, aktor Gofar Hilman dituduh lakukan pelecehan seksual. Jatim Times. https://jatimtimes.com/baca/243145/20210609/094900/hadiri-acara-di-malang-aktor-gofar-hilman-dituduh-lakukan-pelecehan-seksual

·       Krisnani, N. (2020). Strategi komunikasi krisis tokoh publik di media sosial pada era cancel culture. Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 18(2), 115–132. https://doi.org/10.33175/jikom.v18i2.105876

·       Liputan6. (2024, August 29). Ribuan ojol dan kurir demo 29 Agustus 2024 protes potongan tarif yang tak adil. https://www.liputan6.com/bisnis/read/5686388

·       Rahma, S. (2021, Juni 9). Diduga lecehkan wanita di Malang, Gofar Hilman dihujat di Twitter. Radar Malang. https://radarmalang.jawapos.com/lifestyle/811076417/diduga-lecehkan-wanita-di-malang-gofar-hilman-dihujat-di-twitter

·       Reuters. (2024, August 29). Indonesian app-based taxi drivers strike in protest over low pay. https://www.reuters.com/world/asia-pacific/indonesian-app-based-taxi-drivers-strike-protest-over-low-pay-2024-08-29/

·       Sanderson, J., & Frederick, E. (2015). From apology to resistance: Crisis communication in the age of social media. Journal of Sports Media, 10(1), 5–28.

·       Seeger, M. W. (2006). Best practices in crisis communication: An expert panel process. Journal of Applied Communication Research, 34(3), 232–244.

·       Tempo.co. (2021). Pengguna Twitter mengaku Gofar Hilman melecehkannya di Malang. Tempo. https://www.tempo.co/hiburan/pengguna-twitter-mengaku-gofar-hilman-melecehkannya-di-malang-tiga-tahun-lalu-505913

·       The Jakarta Post. (2022, Februari 15). Gofar Hilman denies coercing accuser to apologize. The Jakarta Post. https://www.thejakartapost.com/culture/2022/02/15/gofar-hilman-denies-coercing-accuser-to-apologize.html

·       Wardani, R. (2024, Oktober 7). Cerita Gofar Hilman kena cancel culture imbas tuduhan pelecehan seksual. iNews. https://www.inews.id/lifestyle/seleb/cerita-gofar-hilman-kena-cancel-culture-imbas-tuduhan-pelecehan-seksual


(Erliyana Ine Puspitasari)

(Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila)