TERKINI Warga Bekasi Tertarik Scan Mata di WorldID Dapat Rp 300.000 karena Kesulitan Ekonomi
DKYLB.com, Selasa (6/5/2025) - Warga Tambun Utara, Mulyana tertarik memindai data retinanya di gerai WorldID di Jalan Ir H Juanda, Bekasi Timur, Kota Bekasi pada Selasa (6/5/2025). Mulyana dijanjikan akan mendapatkan uang Rp 300.000 per bulan selama setahun setelah menyerahkan scan retina. Uang tersebut cukup untuk membantu perekonomian keluarga yang tengah terpuruk. "Katanya minimal banget Rp 300.000 sebulan. Selama 12 bulan dapatnya. Saya ikut program ini ingin membantu kesulitan ekonomi saya, ya per bulannya gitu. Siapa tahu bisa kebantu dengan adanya solusi kayak gini," kata Mulyana di gerai WorldID Jalan Ir H Juanda, Selasa.
Mulyana mengaku sebelumnya khawatir jika data matanya disalahgunakan. Namun karena faktor kebutuhan uang ia tetap bersedia memindai data mata. "Ada kekhawatiran, di hati juga ada. Mungkin disalahgunakan apa gimana, tapi yaudahlah mungkin cuma hanya modal ponsel, masa kayak gitu sih," imbuh dia. Namun Mulyana kecewa lantaran gerai WorldID di Bekasi Timur, Kota Bekasi, tutup.
Mulyana tiba di lokasi bersama tujuh sanak saudaranya.
"Enggak tahu tutup, saya juga enggak tahu. Sudah jauh-jauh, sampai sini tutup," kata dia.
Warga Gabus lainnya, Siti (20) juga merasakan hal yang sama. Ia tak tahu gerai WorldID sudah tutup setelah layanan dibekukan pemerintah karena belum mengantongi izin operasional.
"Enggak tahu, tapi dibekukan sudah tahu. Tadi baca-baca. Tapi tetap penasaran mau ke sini," ujar Siti.
Sebelumnya diberitakan, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) membekukan sementara tanda daftar penyelenggara sistem elektronik Worldcoin dan WorldID.
Pembekuan dilakukan menyusul adanya laporan masyarakat mengenai aktivitas mencurigakan berkenaan dengan layanan digital tersebut. Kemkomdigi akan memanggil pejabat PT Terang Bulan Abadi dan PT Sandina Abadi Nusantara.
Pemanggilan dilakukan untuk mengklarifikasi dugaan pelanggaran ketentuan penyelenggaraan sistem elektronik di layanan Worldcoin dan WorldID.
Sementara itu, Perusahaan pengembang layanan atau induk dari Worldcoin dan WorldID, Tools for Humanity (TFH), memberikan respons terkait pembekuan layanannya di Indonesia.
TFH menyatakan bahwa saat ini pihaknya tengah berupaya mencari kejelasan terkait persyaratan izin dan lisensi yang relevan. Perusahaan juga menegaskan kesiapan mereka apabila ditemukan kekurangan atau kesalahpahaman dalam proses perizinan tersebut.
"Kami berharap dapat terus melanjutkan dialog konstruktif dan suportif yang telah terjalin selama setahun terakhir dengan pihak pemerintah terkait," ungkap pihak TFH dalam pernyataan resminya, dikutip KompasTekno dari Antaranews, Selasa (6/5/2025). "Jika terdapat kekurangan atau kesalahpahaman terkait perizinan kami, kami tentu akan menindaklanjutinya," ungkap pihak THF.
Mokhamad Naufal

