X

TERKINI FENOMENA CUACA EKSTREM GANGGU TRANSPORTASI UDARA DI INDONESIA

12 Januari 2025 19:37 | Oleh Tim DKYLB 01

DKLYB.com, Kamis (02/01/2025), Jakarta – Sejak akhir Desember 2024, fenomena cuaca ekstrem terus mengganggu penerbangan domestik dan internasional di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat peningkatan intensitas hujan lebat disertai angin kencang di berbagai wilayah, termasuk Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Kondisi ini berdampak pada lebih dari 120 penerbangan yang mengalami keterlambatan hingga pembatalan.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, "Kondisi cuaca ini dipengaruhi oleh anomali La Nina yang memperkuat aktivitas monsun Asia, sehingga memicu curah hujan tinggi dan angin kencang di sebagian besar wilayah Indonesia. Fenomena ini juga berdampak pada turbulensi udara, yang menjadi perhatian serius bagi keselamatan penerbangan."

Bandara yang Terkena Dampak Paling Parah:

  • Bandara Soekarno-Hatta (Jakarta): 45 penerbangan tertunda hingga 3 jam.
  • Bandara Sultan Hasanuddin (Makassar): 30 penerbangan dibatalkan akibat jarak pandang terbatas.
  • Bandara Ngurah Rai (Bali): Penundaan 20 penerbangan internasional.

Agus Santoso, Direktur Operasi Angkasa Pura II, mengatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan maskapai untuk mengelola dampak cuaca ini. "Kami berkomitmen untuk memastikan penumpang mendapatkan informasi terkini dan layanan kompensasi yang layak," ungkapnya dalam konferensi pers, Rabu (01/01/2025).

Salah seorang penumpang, Rini Setyowati, mengungkapkan kekesalannya, "Saya harus menunggu lebih dari 6 jam tanpa kejelasan dari maskapai. Keadaan ini sangat mengganggu rencana perjalanan saya."

Di sisi lain, para ahli mengingatkan perlunya mitigasi jangka panjang dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin memperparah kondisi cuaca ekstrem. Dr. Arif Haryono, seorang klimatolog dari LIPI, menyatakan bahwa pemerintah dan industri penerbangan harus meningkatkan kesiapan teknologi, termasuk radar cuaca canggih, untuk mengantisipasi fenomena serupa di masa depan.

BMKG memprediksi cuaca ekstrem ini akan berlangsung hingga pertengahan Januari 2025, dengan intensitas hujan mencapai puncaknya pada minggu pertama bulan ini. Masyarakat diimbau untuk memantau informasi terbaru dari BMKG dan menghindari perjalanan yang tidak mendesak jika kondisi tidak memungkinkan.

 

(Kevin Zulfian Bay)