X

TERKINI Mengenal Penyakit Cacar Monyet yang Mengkhawatirkan

24 Oktober 2023 09:26 | Oleh TB Setyawan

DKYLB.COM (24/10/2023) – Penyakit cacar monyet saat ini tengah merebak di tanah air dan kasusnya cenderung naik dan hingga kini belum ada obat yang spesifik bisa mengatasi infeksi virus penyebab cacar monyet.

Diketahui di pertengahan bulan Mei 2022 WHO (World Health Organization) melaporkan adanya kasus cacar monyet atau biasa disebut monkeypox.

Kasus tersebut diawali saat warga Inggris yang melakukan perjalanan dari Afrika. Monkeypox adalah penyakit langka akibat infeksi virus monkeypox yang ditularkan melalui binatang.

Baca Juga: Saran Dinkes DKI Jakarta Cegah Cacar Monyet, Setia dengan Pasangan

Dikutip dari laman RSAB Harapan Kita Jakarta, cacar monyet disebabkan oleh virus monkeypox, yaitu virus yang termasuk dalam kelompok Orthopoxvirus.

Virus ini awalnya menular dari hewan ke manusia melalui cakaran atau gigitan hewan, seperti tupai, monyet atau tikus yang terinfeksi virus monkeypox.

Cacar monyet menyebar antarmanusia melalui percikan liur yang masuk melalui mata, mulut, hidung, atau luka di kulit.

Penularan juga bisa terjadi melalui benda yang terkontaminasi, seperti pakaian penderita. Namun, penularan antarmanusia membutuhkan kontak yang lama.

Baca Juga: Kepala Kantah Sumedang Serahkan Sertipikat Tanah Wakaf Kepada PCNU pada Hari Santri Nasional

Monkeypox sendiri bukan merupakan penyakit baru, pada tahun 1958 pertama kali ditemukan kasus monkeypox pada koloni kera penelitian.

Berdasarkan laporan CDC/Centers for Disease Control and Prevention, update 13 Juni 2022, saat ini angka kasus konfirmasi sebanyak 1678 dari 35 negara. Sebaiknya masyarakat waspada mengingat penyakit ini dikategorikan berbahaya dan mudah menular melalui percikan droplet namun penularan masih belum diketahui dengan pasti.

Dikutip dari siaran live IG dengan nakita.id, Selasa (14/6/2022), dr. Nanny Shoraya, Sp.KK, FINSDV, FAADV menjelaskan gejala yang dialami penderita cacar monyet yaitu antara lain masa inkubasi berlangsung 6 sampai dengan 21 (dua puluh satu) hari, terdapat 2 (dua) fase yaitu prodromal dan fase erupsi.

Baca Juga: Atasi Kekurangan 6 Juta Sambungan, Presiden Setujui Pembentukan Inpres Terkait Air Minum

Pada fase prodromal dapat berlangsung selama 5 (lima) hari, dengan gejala seperti demam, sakit kepala, lemas, nyeri punggung/otot, pembesaran kelenjar getah bening yang ditandai dengan benjolan di leher, ketiak, atau selangkangan.

Pada fase erupsi muncul 3 (tiga) hari setelah demam, terjadi ruam kulit awal berupa bercak kemerahan pada area wajah lalu menyebar ke bagian telapak, selaput mulut, selaput mata dan area alat kelamin.

Ruam/bercak kemerahan yang terbentuk biasanya diawali dengan bintik-bintik hingga berubah menjadi vesikel atau lenting, yaitu lepuhan kulit yang berisi cairan. Dalam waktu beberapa hari, ruam akan berubah mengering membentuk kerak (keropeng) di kulit.

Baca Juga: Wamen ATR/BPN: Program PTSL Meningatkan Sertifikasi Tanah Wakaf 1,5 Kali

Perkembangan ruam mulai dari bintik hingga menjadi keropeng di kulit umumnya terjadi dalam waktu kurang lebih 10 hari. Butuh waktu sekitar tiga minggu hingga seluruh keropeng pada kulit tubuh bisa mengelupas dengan sendirinya. Dan apabila sudah tidak ada lenting baru itu merupakan salah satu petanda sudah tidak menularkan.

“Secara umum populasi yang lebih rentan terkena infeksi baik bakteri/virus atau cenderung menjadi lebih berat gejalanya yaitu diantaranya populasi anak-anak terutama usia dibawah 8 (delapan) tahun, seseorang dengan imunokompromais (daya tahan tubuh rendah), seseorang dengan penyakit keganasan, seseorang yang sedang mendapat terapi obat-obatan serta wanita hamil” papar dr. Nanny.

Hingga saat ini belum ada obat yang spesifik bisa mengatasi infeksi virus penyebab cacar monyet. Meski belum ada pengobatan khusus, penyakit ini dapat ditangani dengan mencoba mengendalikan gejala-gejala yang muncul melalui perawatan yang bersifat suportif dan pengobatan melalui antivirus.

Baca Juga: Gunung Ili Lewotolok-NTT 2 Kali Erupsi

Selama mengalami gejala, dianjurkan untuk memperbanyak waktu istirahat serta mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisi. Selain itu juga diharuskan melakukan karantina diri dengan berdiam di rumah dan melakukan pembatasan kontak sosial dengan orang-orang di lingkungan sekitar.

Pada kasus gejala yang parah, penderita dianjurkan untuk menjalani rawat inap di rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan intensif.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, kasus konfirmasi cacar monyet atau Monkeypox di Indonesia bertambah. Berdasarkan data harian yang diterima per tanggal 22 Oktober 2023, kasus konfirmasi dilaporkan bertambah menjadi 7 kasus sejak pertama kali dilaporkan pada 13 Oktober 2023, atau 8 kasus sejak pertama kali terkonfirmasi di pertengahan 2022.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, hingga kini kita dapatkan 7 kasus konfirmasi Monkeypox di Indonesia di tahun ini. Seluruh kasus konfirmasi ditemukan di wilayah DKI Jakarta,” kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Maxi Rein Rondonuwu (23/10/2023). (*)


Fadli Zon minta Ahmad Dhani Stem Piano Memeriahkan Hari Musik

Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa musik Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa, mulai dari musik tradisional hingga musik kontemporer yang terus berkembang seiring dengan penguatan ekosistem industri musik nasional, dia menekankan pentingnya kolaborasi antara musisi, seniman, budayawan, dan pemerintah.

10 Maret 2026 15:59 | tokoh