X

TERKINI Aurelie Moeremans Terima Gangguan Usai Rilis Buku Memoar “Broken Strings”

13 Januari 2026 12:37 | Oleh Tim DKYLB 01

Senin, (12/01/2026)

Aktris dan publik figur Aurelie Moeremans kembali menjadi sorotan publik setelah merilis buku memoar berjudul Broken Strings. Buku tersebut memuat kisah perjalanan hidupnya yang penuh luka, termasuk pengakuan jujur bahwa dirinya pernah menjadi korban grooming. Keberanian Aurelie membuka kisah personal ini menuai perhatian luas dari masyarakat.

Dalam Broken Strings, Aurelie menceritakan pengalaman masa lalunya yang sarat dengan manipulasi emosional dan relasi kuasa yang tidak sehat. Ia mengungkap bagaimana proses grooming tersebut terjadi secara perlahan, tanpa ia sadari, dan meninggalkan dampak psikologis yang mendalam. Kisah tersebut ditulis sebagai bentuk refleksi sekaligus upaya penyembuhan diri.

Namun, keterbukaan Aurelie ternyata membawa konsekuensi lain. Setelah buku tersebut dirilis ke publik, ia mengaku menerima berbagai bentuk gangguan, terutama melalui media sosial. Gangguan itu berupa komentar negatif, pesan bernada menyudutkan, hingga tudingan yang meragukan pengalamannya sebagai korban.

Aurelie menilai reaksi tersebut sebagai cerminan masih rendahnya pemahaman masyarakat tentang isu grooming dan kekerasan berbasis relasi kuasa. Banyak pihak yang masih kerap menyalahkan korban, alih-alih memberikan empati dan dukungan. Hal ini, menurutnya, justru dapat memperparah trauma yang dialami penyintas.

Proses penulisan buku Broken Strings bukanlah hal yang mudah bagi Aurelie. Ia harus kembali membuka luka lama dan mengingat peristiwa yang selama bertahun-tahun berusaha ia pendam. Namun, ia memilih untuk jujur agar kisah tersebut dapat menjadi pelajaran bagi orang lain, terutama generasi muda.

Aurelie menegaskan bahwa memoar ini tidak ditulis untuk mencari sensasi atau simpati publik. Buku tersebut merupakan bentuk kejujuran terhadap dirinya sendiri dan bagian dari perjalanan panjang menuju pemulihan mental. Ia berharap pembaca dapat mengambil hikmah dari kisah yang ia bagikan.

Di tengah derasnya komentar negatif, dukungan juga mengalir dari berbagai pihak. Sejumlah warganet, aktivis kesehatan mental, hingga tokoh publik menyampaikan apresiasi atas keberanian Aurelie berbicara secara terbuka. Mereka menilai langkah tersebut penting untuk membuka ruang diskusi tentang isu grooming yang masih kerap dianggap tabu.

Isu grooming sendiri merupakan bentuk kekerasan emosional yang sering kali sulit dikenali. Pelaku biasanya membangun kedekatan dan kepercayaan secara bertahap sebelum melakukan manipulasi. Kondisi ini membuat korban sering merasa bersalah dan ragu untuk bersuara.

Melalui buku Broken Strings, Aurelie berharap masyarakat dapat lebih memahami bahwa setiap korban memiliki pengalaman dan proses pemulihan yang berbeda. Ia juga mengajak publik untuk menghentikan budaya menghakimi dan mulai membangun empati terhadap para penyintas.

Aurelie menekankan pentingnya dukungan lingkungan sekitar bagi korban kekerasan emosional. Menurutnya, dukungan keluarga, teman, dan masyarakat memiliki peran besar dalam membantu korban bangkit dan memulihkan diri.

Meski menerima gangguan, Aurelie mengaku tidak menyesali keputusannya untuk menerbitkan buku tersebut. Ia merasa kisah yang dibagikannya kini memiliki makna lebih luas, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga bagi orang lain yang mengalami pengalaman serupa.

Dengan dirilisnya Broken Strings, Aurelie Moeremans berharap keberaniannya dapat menjadi suara bagi mereka yang selama ini memilih diam. Ia ingin menunjukkan bahwa berbicara adalah salah satu langkah penting untuk keluar dari lingkaran luka dan menuju pemulihan.

Ke depan, Aurelie berkomitmen untuk terus menyuarakan pentingnya kesadaran akan kesehatan mental dan perlindungan terhadap korban kekerasan emosional. Ia berharap masyarakat Indonesia semakin terbuka, bijak, dan berempati dalam menyikapi kisah para penyintas.

Diolah dari sumber : Tiktok @ANTARANews 

(Elsa Adinda Putri)