TERKINI Cowok Mokondo Itu Nyata, Bukan Cuma Istilah Gaul tapi Pengalaman Banyak Cewek
Belakangan ini, istilah cowok mokondo makin sering muncul di obrolan sehari-hari, konten media sosial, sampai artikel hubungan. Secara sederhana, mokondo merujuk pada cowok yang cuma enak di awal, jago ngomong manis, tapi minim usaha nyata dalam hubungan. Istilah ini banyak dibahas di media seperti Kelas Cinta dan Hipwee.
Banyak cewek yang awalnya nggak sadar kalau sedang terjebak hubungan dengan tipe ini. Awalnya perhatian banget, chat panjang tiap malam, janji masa depan diomongin pelan-pelan. Tapi lama-lama, pola yang sama mulai kelihatan. Mulai dari kalimat klasik seperti,
“Pake uang kamu dulu ya, nanti aku ganti.”
Masalahnya, kata nanti sering banget nggak pernah datang.
Dalam pengalaman banyak orang, cowok mokondo sering bikin pasangannya jadi pihak yang terus ngalah. Kamu yang bayarin makan, kamu yang dengerin curhatnya, sementara giliran kamu butuh, responsnya malah setengah hati. Hubungan pun jadi terasa berat sebelah.
Ironisnya, cewek yang mandiri justru sering jadi “sasaran empuk”. Bukan karena mereka lemah, tapi karena terbiasa kuat dan mikir, “Ya udah gapapa, aku bisa sendiri.”
Padahal, hubungan sehat bukan soal siapa yang lebih punya uang atau siapa yang lebih sibuk. Tapi soal niat berkontribusi. Ketika satu pihak terus memberi dan pihak lain terus menerima, di situlah mokondo berubah dari sekadar istilah gaul jadi red flag serius.
Banyak yang baru sadar setelah capek sendiri. Capek nunggu janji ditepati, capek berharap perubahan, capek mikir masa depan sendirian. Di titik itu, istilah mokondo akhirnya terasa sangat relevan bukan buat menghina, tapi buat mengingatkan.
Pada akhirnya, istilah ini jadi pengingat bahwa hubungan seharusnya bikin tumbuh bareng, bukan bikin salah satu pihak merasa dimanfaatkan. Kalau kamu sering dengar janji seperti “nanti aku berubah” tapi nggak pernah lihat usahanya, mungkin sudah waktunya berhenti menormalisasi hal yang jelas-jelas bikin kamu lelah.
A
(Sumber: kelascinta, Hipwee, Readmore.id, Artikel ini menggunakan pendekatan pengalaman personal kolektif (relatable experience) yang banyak dialami pembaca, tanpa menyebut individu atau kasus spesifik.)

