TERKINI Pendapatan Pajak Indonesia Turun 30% di Periode Januari-Februari 2025
Penerimaan negara per Februari 2025 turun cukup signifikan. Untuk pertama kalinya sejak 2021, APBN sudah mengalami defisit sejak awal tahun. Pemerintah menilai kondisi itu disebabkan oleh koreksi harga komoditas dan sejumlah kebijakan baru, tetapi sama sekali tidak menyinggung faktor kendala sistem Coretax.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, pendapatan negara per Februari 2025 adalah Rp 316,9 triliun atau terealisasi 10,5 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025.
Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, penerimaan negara turun 20,85 persen secara tahunan. Sebagai perbandingan, pada Februari 2024, pendapatan negara adalah Rp 400,4 triliun atau terealisasi 14,29 persen dari target APBN 2024.
Turunnya pendapatan negara awal tahun ini terutama disebabkan oleh penerimaan perpajakan yang lebih rendah, khususnya setoran pajak.
Penerimaan pajak pada Februari 2025 ialah Rp 187,8 triliun atau terealisasi 8,6 persen dari target APBN 2025. Capaian itu anjlok 30,19 persen dibandingkan penerimaan pajak tahun lalu, yakni Rp 269,02 triliun atau 13,53 persen dari target APBN 2024.
Di sisi lain, belanja negara pada Februari 2025 tercatat Rp 348,1 triliun atau terealisasi 9,6 persen dari target APBN 2025. Capaian ini juga lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp 374,32 triliun atau terealisasi 11,26 persen dari target APBN 2024.
Dengan realisasi penerimaan dan belanja itu, APBN per Februari 2025 pun sudah mencatatkan defisit Rp 31,2 triliun atau 0,13 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu, APBN masih surplus Rp 26,04 triliun atau 0,11 persen terhadap PDB.
Hal ini sekaligus menandai defisit pertama APBN periode Februari sejak 2021. Berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, APBN 2024 baru mengalami defisit pada Mei 2024, yaitu Rp 21,76 triliun atau 0,10 persen terhadap PDB. Bahkan, pada 2023, defisit baru terjadi pada Oktober 2023, yaitu Rp 700 miliar atau 0,003 persen terhadap PDB.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, penurunan pendapatan negara pada awal tahun ini sesuai dengan pola penerimaan pada Januari-Februari yang dari tahun ke tahun cenderung turun.
Penurunan itu, antara lain, disebabkan oleh perlambatan akibat koreksi harga komoditas dan beberapa kebijakan yang baru diperkenalkan sehingga terjadi peralihan (shifting) penerimaan negara.
Beberapa kebijakan baru itu adalah kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang tidak jadi berlaku umum pada 2025, turunnya harga komoditas, serta mekanisme baru tarif efektif rata-rata (TER) yang memengaruhi penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) 21.
”Jadi, penerimaan negara memang mengalami penurunan, tetapi polanya sama,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kinerja dan Fakta (APBN Kita) Edisi Maret 2024, di Jakarta, Kamis (13/3/2025).
Kemenkeu sama sekali tidak menyinggung faktor kendala implementasi sistem administrasi perpajakan Coretax yang baru berlaku sejak 1 Januari 2025 sebagai penyebab turunnya penerimaan. Padahal, Coretax yang bermasalah telah membuat wajib pajak terkendala menjalankan kewajiban pajak pada awal tahun ini.
Ke depan, pemerintah akan tetap mewaspadai tren penurunan penerimaan tanpa menimbulkan gejolak atau alarm. Sri Mulyani memastikan, defisit APBN 2025 akan terjaga sesuai dengan Undang-Undang Nomor 62 Tahun 2024 tentang APBN 2025, yakni 2,53 persen dari PDB.
Kemenkeu juga akan melaksanakan perpajakan transaksi digital, baik dalam negeri maupun luar negeri, termasuk pemantauan (trace) dan penelusuran (track) guna mengurangi penyelundupan serta cukai dan rokok palsu. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sumber daya alam, seperti batubara, nikel, timah, bauksit dan sawit, juga akan dioptimalkan.
Terkait APBN yang sudah mengalami defisit sejak bulan Februari, Sri Mulyani menilai hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Sebab, besaran defisit itu masih jauh di bawah target defisit yang dipasang pada APBN 2025, yakni Rp 616,2 triliun atau 2,53 persen terhadap PDB.
”Jadi, defisit ini sebenarnya masih dalam target desain APBN,” kata Sri Mulyani.
Namun, ekonom dan pakar kebijakan publik dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mengingatkan, tren penerimaan negara yang melemah dan belanja yang sulit ditekan dapat memperlebar defisit APBN sepanjang 2025.
Menurut dia, defisit anggaran bahkan berpotensi membengkak hingga Rp 800 triliun atau sekitar 3 persen dari PDB.
”Bila dilihat dari tren awal tahun, skenario Rp 800 triliun menjadi baseline yang realistis. Defisit sebesar ini akan membawa konsekuensi berat, baik terhadap rasio utang, beban bunga utang, maupun risiko ketergantungan pada pembiayaan utang jangka pendek yang mahal,” ujar Achmad.
TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan pajak hingga akhir Februari 2025 hanya Rp 187,8 triliun. Total penerimaan ini menurun sekitar 30,1 persen persen dibandingkan dengan realisasi di periode yang sama tahun lalu. Pada Februari 2024, penerimaan pajak mencapai Rp 269,02 triliun.
“Penerimaan perpajakan Rp 240,4 triliun atau 9,7 persen dari target tahun ini, terdiri dari penerimaan pajak Rp 187,8 triliun atau 8,6 persen dari target," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers realisasi APBN KiTa periode Januari dan Februari 2025 yang dihelat di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Kamis, 13 Maret 2025.
Sebagai informasi, penerimaan perpajakan sebesar Rp 240,4 triliun per Februari 2025 itu turun 24,9 persen jika dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 320,51 triliun.
Per Februari 2025, Sri Mulyani merincikan penerimaan perpajakan terdiri dari pajak 187,8 triliun dan penerimaan kepabeanan dan cukai Rp 52,6 triliun. Sementara penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 76,4 triliun.
Sementara itu, Bendahara Negara melaporkan total pendapatan negara hingga akhir Februari 2025 mencapai Rp 316,9 triliun. Sebagai perbandingan, realisasi pendapatan negara pada akhir Februari 2024 tercatat Rp 400,36 triliun. Artinya, realisasi pendapatan ini mengalami penurunan sekitar 20,8 persen.
Di sisi belanja negara, Sri Mulyani memaparkan realisasi belanja sampai akhir Februari sebesar Rp 348,1 triliun. “Hingga akhir Februari kami masih melihat belanja negara Rp 348,1 triliun. Ini 9,6 persen dari belanja yang dianggarkan tahun ini,” ujarnya.
Eks Direktur Pelaksana Bank Dunia itu juga menyatakan sampai akhir Februari 2025 APBN mengalami defisit Rp 31,3 triliun atau 0,13 persen dari produk domestik bruto (PDB). “APBN 2025 didesain dengan defisit Rp 616,2 triliun, jadi defisit ini masih di dalam target yang didesain dari APBN,” tutur Sri Mulyani.
Seperti diketahui, defisit APBN tahun ini ditargetkan 2,53 persen terhadap PDB. Defisit terjadi saat belanja lebih tinggi dari pendapatan. Dalam APBN 2025, pemerintah menargetkan belanja negara dalam sebesar Rp 3.621,3 triliun dan pendapatan negara Rp 3.005,1 triliun. Sehingga defisit anggaran dibatasi Rp 616,2 triliun.
Adapun Sri Mulyani akhirnya mengumumkan realisasi APBN hingga Februari 2025. Data APBN KiTa biasanya dipublikasikan Kementerian Keuangan di pekan kedua atau ketiga pada bulan berikutnya. Namun Sri Mulyani baru membacakan publikasi kinerja APBN bulanan pada Kamis, 13 Maret 2025. Publikasi tersebut merupakan kalkulasi realisasi APBN periode Januari dan Februari 2025.
(Juqni Isnain Nuridin)
Sumber:
Tempo.co
kompas.id

