X

TERKINI AS dan Doktrin Monroe: Mengapa Negeri Paman Sam Selalu Ikut Campur Urusan Negara Lain

07 Januari 2026 02:20 | Oleh Tim DKYLB 01

JAKARTA, CNN Indonesia – Amerika Serikat (AS) hampir selalu hadir dalam berbagai konflik di dunia, dari Amerika Latin, Timur Tengah, hingga Asia. Baru-baru ini, AS di bawah perintah Presiden Donald Trump menyerang Venezuela untuk menjatuhkan rezim Presiden Nicolas Maduro. Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap pasukan elite Delta Force di kediamannya di Caracas beberapa saat setelah kota itu dibombardir pada Sabtu (3/1/2026).


Begitu pula dalam kasus Israel serang Gaza, perang Rusia-Ukraina, demo di Iran, hingga konflik China-Taiwan, Amerika selalu terlibat, baik sebagai penyuplai persenjataan, juru damai, maupun intervensi militer langsung. Hal ini menegaskan reputasi AS sebagai “Polisi Dunia” (Global Policeman).


Doktrin Monroe: Dasar Intervensi AS


Sejarah intervensi AS ini berakar pada Doktrin Monroe yang diproklamasikan pada 1823 oleh Presiden James Monroe. Doktrin ini awalnya menjanjikan perlindungan republik-republik muda Amerika Latin dari monarki Eropa. Namun, doktrin ini kemudian menjadi dasar utama kebijakan luar negeri AS, termasuk ekspansi wilayah dan intervensi militer.


Doktrin ini berkembang di bawah Presiden James Polk pada 1845 untuk membenarkan aneksasi Texas dan Oregon serta menghalangi ambisi Inggris di California. Perang Meksiko-Amerika pun memperluas wilayah AS secara signifikan.


Pasca Perang Dunia II dan Perang Dingin, Doktrin Monroe tetap relevan. AS menggunakan doktrin ini untuk menahan pengaruh Uni Soviet di Belahan Barat, mendukung rezim anti-komunis di Amerika Latin, dan membenarkan tindakan militer seperti blokade Kuba pada 1962. Presiden John F. Kennedy menegaskan bahwa penempatan rudal nuklir Soviet di Belahan Barat merupakan ancaman yang tidak bisa ditoleransi.


Intervensi Global AS


Sejak dekade 1970-an hingga 1980-an, intervensi AS semakin meluas. Di Chili, AS mendukung kudeta militer 1973; di Nikaragua, berperang melawan Sandinista; di El Salvador, mendukung pemerintah melawan pemberontak sayap kiri. Di Timur Tengah, AS dan Israel menggulingkan rezim di Iran, Irak, dan Libya. Di Asia, AS pernah terlibat di Indocina, Malaysia, termasuk Indonesia.


Selain intervensi militer, AS juga menggunakan strategi non-militer seperti tekanan ekonomi, sanksi finansial, infiltrasi budaya, manipulasi pemilu, serta propaganda demokrasi dan hak asasi manusia. Tujuannya, menurut pakar HAM Daniel Kovalik dan pengamat Turki Tunc Akkoc, lebih untuk kepentingan ekonomi dan strategis AS dibandingkan nilai-nilai demokrasi atau HAM yang diklaim.


Statistik dan Dampak Intervensi


Dari akhir Perang Dunia II hingga 2001, AS memulai 201 konflik bersenjata di 153 lokasi, mencakup lebih dari 80 persen total perang global saat itu. Sejak 2001, rata-rata AS dan sekutunya menjatuhkan 46 bom per hari di negara lain. Perang-perang tersebut menelan ratusan ribu korban sipil di Afganistan, Irak, Libya, dan Yugoslavia, serta jutaan orang menjadi pengungsi.


Mantan Presiden Jimmy Carter menilai AS adalah negara paling agresif dalam sejarah modern, dengan hanya 16 tahun damai dari total 242 tahun sejarah berdirinya negara itu.


Ideologi Intervensi vs Isolasionisme


Dalam kebijakan luar negeri AS terdapat dua ideologi dominan: intervensionisme, mendorong intervensi militer dan politik ke negara lain; serta isolasionisme, yang menahan campur tangan AS. Pada abad ke-19 dan ke-20, intervensionisme dipicu peluang ekonomi, perlindungan warga AS, perluasan wilayah, mendorong perubahan rezim, dan penegakan hukum internasional.


Di bawah Presiden Trump, Doktrin Monroe dihidupkan kembali dengan interpretasi proteksionis dan unilateral, menekankan bahwa AS akan mempertahankan kepentingannya di Belahan Barat dan menolak campur tangan dari kekuatan lain, terutama Tiongkok. Retorika ini menjadi bagian dari strategi global untuk menjaga hegemoni AS.


Sejarah menunjukkan bahwa setiap kali kepentingan ekonomi atau strategisnya terancam, AS hampir pasti hadir, baik secara langsung maupun melalui proxy, di berbagai gejolak dunia.


Sumber: CNN Indonesia dan I News
Penulis: BIsathul Lais