X

TERKINI Pengadaan Laptop Chromebook Disorot, Nadiem Makarim Terseret Isu Dugaan Konflik Kepentingan

06 Januari 2026 15:06 | Oleh Tim DKYLB 01

JAKARTA — Kebijakan pengadaan laptop Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) kembali menuai sorotan publik. Isu ini mencuat setelah unggahan akun Instagram resmi Harian Kompas (@hariankompas) menyoroti dugaan adanya konflik kepentingan dalam program digitalisasi pendidikan yang dijalankan saat Nadiem Anwar Makarim menjabat sebagai menteri.

Dalam unggahan tersebut, Harian Kompas menyoroti kebijakan pengadaan perangkat Chromebook berbasis sistem operasi Chrome OS yang dinilai menimbulkan pertanyaan publik terkait urgensi, efektivitas, serta potensi keterkaitannya dengan latar belakang bisnis Nadiem sebelum masuk ke pemerintahan.

Latar Belakang Kebijakan Pengadaan Chromebook

Program pengadaan laptop Chromebook diluncurkan sebagai bagian dari upaya digitalisasi pendidikan nasional. Pemerintah beralasan bahwa penggunaan perangkat teknologi bertujuan untuk memperluas akses pembelajaran digital, meningkatkan literasi teknologi siswa, serta memperkecil kesenjangan pendidikan antarwilayah.

Namun, kebijakan ini menuai kritik karena Chromebook sangat bergantung pada koneksi internet, sementara banyak sekolah di daerah masih menghadapi keterbatasan infrastruktur jaringan. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian kebijakan dengan kebutuhan riil di lapangan.

Isu Dugaan Konflik Kepentingan

Sorotan publik semakin menguat ketika muncul dugaan konflik kepentingan yang dikaitkan dengan latar belakang Nadiem Makarim sebagai pendiri perusahaan teknologi PT Aplikasi Karya Anak Bangsa sebelum menjabat sebagai menteri. Sejumlah pihak mempertanyakan apakah pemilihan sistem operasi Chrome OS murni didasarkan pada pertimbangan pendidikan, atau memiliki irisan dengan kepentingan ekosistem bisnis digital tertentu.

Harian Kompas dalam unggahannya menekankan bahwa dugaan tersebut masih memerlukan pembuktian hukum dan tidak dapat disimpulkan secara sepihak. Namun, isu ini dinilai penting untuk dikaji karena menyangkut transparansi kebijakan publik dan etika pejabat negara.

Proses Penelusuran dan Respons Aparat

Aparat penegak hukum disebut tengah melakukan penelusuran terhadap kebijakan pengadaan tersebut, termasuk mekanisme pengambilan keputusan, proses pengadaan barang dan jasa, serta potensi kerugian negara. Penelusuran ini dilakukan untuk memastikan apakah kebijakan tersebut telah sesuai dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.

Hingga saat ini, belum ada putusan hukum yang menyatakan adanya pelanggaran pidana dalam kasus tersebut. Proses hukum masih berada pada tahap pengumpulan data dan klarifikasi dari berbagai pihak terkait.

Respons Publik dan Dampak Kebijakan

Unggahan Harian Kompas di Instagram memicu reaksi luas dari masyarakat. Sebagian warganet mendesak transparansi penuh dalam kebijakan pengadaan teknologi pendidikan, sementara pihak lain menekankan pentingnya asas praduga tak bersalah terhadap pihak yang disebut dalam isu tersebut.

Kasus ini juga mendorong evaluasi kebijakan digitalisasi pendidikan secara lebih luas. Pemerintah didorong untuk memastikan bahwa setiap kebijakan pengadaan benar-benar berbasis kebutuhan pendidikan, bukan sekadar dorongan teknologi atau kepentingan tertentu.

Upaya Evaluasi dan Pencegahan ke Depan

Pengamat kebijakan publik menilai kasus ini menjadi momentum untuk memperkuat regulasi terkait:

  • Pencegahan konflik kepentingan pejabat publik

  • Transparansi pengadaan barang dan jasa negara

  • Pengawasan kebijakan pendidikan berbasis teknologi

Evaluasi menyeluruh dinilai penting agar program digitalisasi pendidikan ke depan benar-benar memberikan manfaat optimal bagi dunia pendidikan dan tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat.