TERKINI Tragedi Kebakaran Panti Jompo Werdha Damai Manado, DPR Dorong Reformasi Standar Keamanan Lansia
DKYLB.com, Rabu (31/12/2025).
Tragedi kebakaran yang melanda Panti Jompo Werdha Damai di Kelurahan Ranomuut, Kecamatan Paal Dua, Kota Manado, menjadi peristiwa memilukan yang menewaskan 16 penghuni lanjut usia (lansia). Insiden yang terjadi pada Minggu malam (28/12) sekitar pukul 20.00 WITA ini memicu desakan kuat dari DPR RI agar pemerintah segera melakukan reformasi menyeluruh terhadap standar keselamatan panti jompo di Indonesia.
Anggota Komisi VIII DPR RI Maman Imanul Haq menegaskan bahwa tragedi tersebut harus menjadi peringatan serius bagi negara dalam melindungi kelompok rentan, khususnya lansia. Ia menilai bahwa sistem keselamatan di panti jompo tidak boleh berhenti pada tataran administratif semata.
“Standar keselamatan kebakaran, kelaikan bangunan, jalur evakuasi, serta kesiapsiagaan petugas harus dipastikan berjalan secara nyata, bukan sekadar formalitas,” ujar Maman dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Menurutnya, Komisi VIII DPR RI mendorong evaluasi total terhadap seluruh panti jompo dan panti sosial, baik yang dikelola negara maupun swasta. Ia juga mendukung langkah aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas penyebab kebakaran secara transparan, termasuk kemungkinan adanya kelalaian, pelanggaran standar keselamatan, atau lemahnya pengawasan.
Api Menyebar Cepat, Lansia Sulit Menyelamatkan Diri
Kebakaran di Panti Werdha Damai berlangsung sangat cepat. Api melahap hampir seluruh bangunan panti yang diketahui telah berdiri sejak tahun 1985. Kepala Lingkungan Ranomuut, Yohana Tumuyu, mengungkapkan bahwa dari 16 korban meninggal dunia, hanya satu jenazah yang ditemukan dalam kondisi utuh, sementara lainnya mengalami luka bakar parah hingga sulit dikenali.
“Satu opa meninggal karena kehabisan oksigen saat diselamatkan, tubuhnya masih utuh. Sisanya sudah terbakar, ada yang tidak lengkap anggota tubuhnya,” ujar Yohana.
Saat kejadian, terdapat 32 penghuni lansia di dalam panti. Sebagian besar korban meninggal diketahui sedang tidur, berada di tempat tidur atau kursi roda, serta dalam kondisi sakit sehingga tidak mampu menyelamatkan diri. Warga sekitar sempat mengevakuasi empat lansia melalui pintu belakang yang belum tersentuh api, sementara 12 lainnya berhasil keluar saat api belum membesar.
Proses Evakuasi dan Identifikasi Korban
Dinas Pemadam Kebakaran Kota Manado menerima laporan kebakaran pada pukul 20.31 WITA dan segera mengerahkan enam unit armada ke lokasi. Namun, akses menuju lokasi yang berada di kawasan permukiman padat sempat menyulitkan proses pemadaman. Api baru berhasil dikendalikan sekitar 30 menit kemudian, dan dinyatakan padam sepenuhnya pada pukul 21.30 WITA.
Seluruh jenazah korban dievakuasi ke RS Bhayangkara Manado untuk proses identifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Utara. Hingga Selasa (30/12), polisi telah mengidentifikasi empat korban, yakni:
-
Herry Lombogia (70)
-
Jansen H. Maringka (65)
-
Olly Clara Kemur (85)
-
Merry Bermuli Dengah (83)
Sementara 12 jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi yang diperkirakan memakan waktu hingga dua pekan sesuai prosedur.
Korban selamat yang mengalami luka bakar berat saat ini menjalani perawatan intensif di RSUD Manado dan Rumah Sakit Awaloei Manado.
Penyelidikan Polisi dan Dugaan Penyebab Kebakaran
Aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan mendalam terkait penyebab kebakaran. Tim Inafis dan Bidang Laboratorium Forensik Polda Sulut telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta mengamankan barang bukti berupa kabel instalasi listrik, sisa arang, dan perangkat elektronik.
Fokus penyelidikan sementara mengarah pada dugaan arus pendek listrik, meski polisi menegaskan belum dapat menarik kesimpulan final sebelum hasil uji forensik selesai.
Desakan Penguatan Kebijakan Perlindungan Lansia
Maman Imanul Haq menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor antara Kementerian Sosial, pemerintah daerah, dinas pemadam kebakaran, serta pengelola panti untuk menciptakan tata kelola keselamatan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
“Kehadiran negara harus dimulai sejak pencegahan, dengan sistem perlindungan yang kokoh bagi kelompok paling rentan, khususnya para lansia,” tegasnya.
Tragedi ini tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga membuka kembali urgensi perbaikan standar keamanan fasilitas sosial di Indonesia agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
(Salsabilla Azzahra)
Sumber : ANTARA News, detik.com, BBC.com

