X

TERKINI Menyulap Limbah Propagul Menjadi Emas: Kebangkitan Batik Pewarna Alam di Tengah Ancaman Rob Pekalongan Utara

30 Desember 2025 12:48 | Oleh Tim DKYLB 01

JAKARTA – Di balik megahnya julukan Pekalongan sebagai Kota Batik Dunia, tersimpan sebuah ironi lingkungan yang mendalam. Sungai-sungai yang membelah kota ini kerap berubah warna menjadi hitam pekat atau merah darah akibat limbah pewarna kimia sintetis. Namun, di minggu terakhir Desember 2025 ini, sebuah angin segar berhembus dari kawasan Pesisir Pekalongan Utara. Kelompok Pengrajin Batik "Setya Mangrove" baru saja menggelar pameran akhir tahun bertajuk “Napas Alam dalam Kain” yang dibuka pada Minggu (28/12/2025), menampilkan ratusan karya batik tulis yang sepenuhnya menggunakan pewarna alami dari limbah buah bakau (propagul).

Pameran yang berlangsung sederhana di Balai Desa Pabean ini mungkin tidak sorot lampu semewah peragaan busana di Jakarta, namun maknanya jauh lebih dalam. Ini adalah simbol perlawanan warga pesisir terhadap kerusakan ekosistem sekaligus strategi adaptasi ekonomi di tengah ancaman banjir rob yang kian ganas menenggelamkan wilayah mereka setiap akhir tahun.

Inovasi dari Desakan Alam

Ketua Kelompok Pengrajin Setya Mangrove, Hartati (45), menceritakan bahwa inisiatif ini bermula dari keprihatinan melihat banyaknya buah bakau yang busuk dan jatuh mengotori area tambak warga. Di sisi lain, harga bahan baku pewarna kimia terus melambung seiring inflasi tahun 2025.

"Awalnya kami hanya coba-coba. Buah bakau atau propagul yang jatuh itu kami kumpulkan, kami rebus berjam-jam sampai airnya mengental dan berwarna cokelat kemerahan. Ternyata ketika diaplikasikan ke kain katun dan sutra, warnanya sangat kuat, unik, dan yang terpenting, limbah sisa rebusannya aman dibuang kembali ke tanah," ujar Hartati saat diwawancarai di lokasi pameran.

Proses pembuatan batik mangrove ini memakan waktu tiga kali lebih lama dibandingkan batik kimia. Kain harus dicelup dan dikeringkan berulang kali—bisa sampai 20 kali celupan—untuk mendapatkan kepekatan warna yang diinginkan. Namun, justru proses panjang inilah yang menciptakan nilai eksklusivitas. Warna cokelat tanah, terracotta, hingga keabuan yang dihasilkan memiliki karakter vintage yang kini sedang digandrungi pasar internasional, khususnya pasar Eropa yang semakin sadar akan isu lingkungan (eco-fashion).

Mengubah Masalah Menjadi Cuan

Dampak ekonomi dari inovasi ini mulai terasa nyata bagi warga sekitar. Jika sebelumnya limbah mangrove hanya dianggap sampah, kini warga, terutama ibu-ibu rumah tangga, berlomba-lomba mengumpulkannya untuk dijual ke sentra produksi batik.

Data dari Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Pekalongan yang dirilis dalam pembukaan pameran menyebutkan, permintaan ekspor untuk batik pewarna alam dari Pekalongan meningkat sebesar 15 persen pada kuartal keempat tahun 2025. Peningkatan ini didorong oleh tren global yang menuntut produk sustainable.

"Harga jual batik mangrove ini bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dari batik biasa. Selembar kain jarik tulis motif klasik dengan pewarna mangrove kami jual mulai dari Rp 750.000 hingga Rp 2.500.000. Pembelinya minggu ini banyak datang dari ekspatriat di Semarang dan Jakarta yang sedang berlibur akhir tahun," tambah Hartati.

Tantangan Pelestarian Hutan Mangrove

Meskipun potensi ekonominya menjanjikan, tantangan besar masih membayangi. Pegiat lingkungan dari Komunitas Peduli Pesisir, Dimas Anggara, mengingatkan agar eksploitasi mangrove untuk pewarna batik tidak justru merusak ekosistem itu sendiri.

"Kuncinya ada di kata 'limbah'. Yang diambil haruslah buah yang sudah jatuh atau propagul yang gagal tumbuh, bukan menebang pohonnya atau memetik buah yang masih di dahan. Edukasi ini yang terus kami dampingkan kepada para pengrajin. Jangan sampai karena cuan, fungsi mangrove sebagai benteng alami penahan abrasi dan banjir rob malah hilang," tegas Dimas.

Dimas juga menyoroti pentingnya penanaman kembali. Dalam pameran minggu ini, setiap pengunjung yang membeli satu kain batik diwajibkan menyumbang satu bibit pohon bakau yang akan ditanam di area konservasi Pantai Slamaran. Konsep buy one, plant one ini menjadi daya tarik tersendiri yang membuat pameran kecil ini viral di media sosial lokal.

Dukungan Regulasi dan Harapan Masa Depan

Pemerintah Kota Pekalongan melalui Wakil Walikota yang hadir membuka acara, menyatakan komitmennya untuk membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal khusus bagi industri batik rumahan pada tahun 2026. Namun, bagi para pengrajin, solusi pewarna alam adalah langkah preventif yang jauh lebih murah dan efektif daripada mengobati sungai yang sudah sakit.

Inovasi warga Pekalongan Utara ini membuktikan bahwa ekonomi dan ekologi tidak harus selalu bertentangan. Di tangan-tangan terampil perempuan pesisir, limbah yang terabaikan disulap menjadi kain bernilai tinggi yang tidak hanya mempercantik pemakainya, tetapi juga menjaga bumi tetap bisa bernapas. Pameran "Napas Alam dalam Kain" masih akan berlangsung hingga 31 Desember 2025, menjadi saksi bisu ketangguhan budaya lokal menghadapi modernisasi.

Sumber Berita: Siaran Pers Komunitas Setya Mangrove Pekalongan

Adinda salsabilla, 7024210004 FIkom universitas pancasila