X

TERKINI Adiksi Gawai Ancam Produktivitas dan Kesehatan Emosional Anak Selama Liburan Sekolah

20 Desember 2025 16:20 | Oleh Tim DKYLB 01

DKYLB.com,  Sabtu (20/12/2025)

Jakarta – Penggunaan gawai yang berlebihan pada anak selama liburan sekolah menjadi perhatian serius berbagai pihak. Ketergantungan terhadap gadget tidak hanya berdampak pada produktivitas anak, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental dan perkembangan emosional mereka, terutama dalam situasi krisis dan pascabencana.

Psikolog Klinis Hara Growth Garut, Nadia Felicia Mahardhika, menjelaskan bahwa dalam kondisi krisis atau bencana, anak maupun orang dewasa cenderung berada dalam survival mode. Kondisi ini ditandai dengan kesulitan berkonsentrasi, gangguan tidur, perubahan suasana hati, hingga kehilangan nafsu makan. Dalam situasi tersebut, gawai kerap digunakan sebagai mekanisme koping untuk mengurangi rasa cemas dan keterasingan.

Namun, Nadia menegaskan bahwa pada anak-anak, penggunaan gadget tetap harus berada di bawah pengawasan ketat orang tua. Anak dinilai belum memiliki kemampuan pengendalian diri yang matang, baik dalam mengatur durasi penggunaan, memilih konten yang sesuai, maupun memahami batasan bermedia sosial. Akibatnya, screen time anak berpotensi meningkat secara signifikan, terutama ketika orang tua juga menghadapi tekanan pemenuhan kebutuhan dasar.

Meski demikian, gawai tidak sepenuhnya berdampak negatif. Jika digunakan secara bijak dan didampingi, gadget dapat dimanfaatkan sebagai sarana hiburan ringan, komunikasi dengan keluarga, hingga mencari informasi penting. “Gawai hanyalah alat bantu, bukan pengganti peran orang tua dalam pengasuhan,” ujar Nadia.

Pentingnya Detoksifikasi Gawai

Nadia menekankan perlunya detoksifikasi gawai bagi anak-anak yang menunjukkan tanda-tanda kecanduan, seperti penggunaan berlebihan untuk game daring, media sosial, hingga paparan konten tidak layak. Ia merujuk pada pemikiran psikolog sosial Amerika, Jonathan Haidt, dalam bukunya The Anxious Generation, yang menyebutkan bahwa penggunaan media sosial sebelum usia 16 tahun berisiko meningkatkan depresi dan kecemasan pada remaja perempuan, serta memicu adiksi game dan pornografi pada remaja laki-laki.

Dalam praktik klinis, dampak negatif penggunaan gawai berlebihan juga terlihat dalam bentuk keterlambatan bicara dan kurang fokus pada anak usia dini, meningkatnya kecemasan pada remaja, hingga keterlibatan dalam aktivitas berisiko seperti judi daring dan kekerasan berbasis gender online. Untuk mengatasinya, anak dapat dialihkan pada aktivitas sederhana seperti menggambar, bercerita, bermain peran, atau berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar.

Pembatasan Media Sosial dan Dampak Positifnya

Sejalan dengan isu tersebut, pemerintah berencana menerapkan pembatasan akses media sosial bagi anak usia 13–16 tahun mulai Maret 2026. Kebijakan ini bertujuan melindungi remaja dari tekanan digital yang berlebihan dan mendorong keseimbangan hidup yang lebih sehat.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pembatasan media sosial dapat memberikan dampak positif, seperti meningkatnya fokus belajar, kesehatan mental yang lebih terjaga, kualitas tidur yang lebih baik, serta produktivitas dan kreativitas yang meningkat. Remaja juga memiliki lebih banyak kesempatan untuk menjalin interaksi sosial secara langsung dan memperkuat hubungan keluarga.

Dampak Emosional pada Anak Usia 6–12 Tahun

Sementara itu, penggunaan gadget berlebihan pada anak usia 6–12 tahun turut memengaruhi perkembangan emosional mereka. Anak yang terlalu sering bermain gadget cenderung menjadi kurang sabar, mudah marah, sulit mengendalikan emosi, serta menarik diri dari lingkungan sosial. Bahkan, tidak jarang muncul perilaku tantrum ketika penggunaan gadget dibatasi.

Meskipun gadget juga digunakan sebagai alat bantu pembelajaran di sekolah, pengawasan orang tua dan guru dinilai masih lemah. Data menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil orang tua yang secara konsisten mengawasi penggunaan gadget anak. Padahal, pendampingan orang tua sangat berperan dalam memastikan penggunaan teknologi tidak mengganggu proses tumbuh kembang anak.

Para ahli sepakat bahwa pembatasan durasi penggunaan gawai, pengawasan konten, serta pengalihan ke aktivitas non-digital merupakan langkah penting untuk melindungi kesehatan mental dan emosional anak di era digital.


(Salsabilla Azzahra) 

Sumber : NU Online, Siaran Berita, women.okezone.com