X

TERKINI Banjir dan Longsor Sumatera Tewaskan Hampir 1.000 Jiwa: Evakuasi Terus Dilakukan, Warga Minta Bantuan Alat Berat

11 Desember 2025 14:20 | Oleh Tim DKYLB 01

DKYLB.com, Kamis (11/12/2025).

JAKARTA — Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera pada akhir November 2025 terus memakan korban. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa hingga Kamis (11/12/2025) pagi, total korban meninggal dunia mencapai 969 orang, sementara 252 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Lebih dari 5.000 warga mengalami luka-luka dan hampir satu juta warga mengungsi.

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa jumlah korban terus bertambah seiring ditemukannya jenazah baru oleh tim SAR gabungan. Pada Senin (8/12), sebanyak 40 jenazah ditemukan, sehingga angka kematian meningkat signifikan dari hari sebelumnya.

Korban Terbanyak di Aceh

Aceh menjadi provinsi dengan jumlah korban terbanyak, yakni 391 orang meninggal dan 31 orang hilang. Banyak wilayah di provinsi tersebut terisolasi akibat jembatan putus dan akses darat yang tertutup lumpur serta kayu gelondongan.

Sumatera Utara mencatat 338 korban meninggal dan 138 hilang, sementara Sumatera Barat melaporkan 238 korban jiwa dan 93 hilang. Kabupaten Agam di Sumatera Barat menjadi daerah dengan kematian tertinggi, mencapai 181 orang.

Rumah dan Fasilitas Umum Rusak Parah

BNPB juga mencatat kerusakan masif pada infrastruktur. Sebanyak:

  • 156.900 unit rumah rusak,

  • 1.200 fasilitas umum terdampak,

  • 219 fasilitas kesehatan rusak,

  • 581 sekolah terdampak,

  • 498 jembatan putus atau tak berfungsi.

Kondisi ini menyebabkan banyak wilayah terputus total dari bantuan logistik dan tenaga medis.

Presiden Prabowo Perintahkan Percepatan Pemulihan

Presiden Prabowo Subianto turun langsung meninjau titik terdampak di Aceh, termasuk jembatan utama yang terputus di Bireuen. Ia menunjuk KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak sebagai Dansatgas pemulihan jembatan serta percepatan infrastruktur kritis.

Pemerintah juga mengerahkan tambahan tenaga kesehatan dan mempercepat distribusi logistik, baik melalui udara maupun jalur darat setelah akses alternatif mulai dibuka.

Sumatera Utara Masih Porak Poranda

Laporan lapangan BBC menunjukkan betapa parahnya kondisi dua pekan pascabencana. Di Hutanabolon, Tapanuli Tengah, jalan aspal berubah menjadi sungai ketika hujan turun. Lumpur berulang kali masuk ke rumah warga.

Sejumlah warga seperti Delinca Pangabean (60) tetap bertahan di rumah meski setiap hari harus mendorong lumpur keluar dari ruang tamu. Banyak lainnya telah mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Ketua dapur umum setempat menyebut wilayah tersebut "sangat rawan" karena hujan deras terjadi hampir setiap hari, dan aliran sungai telah berubah arah ke pemukiman warga.

Pemda Kehabisan Alat Berat

Masinton Pasaribu, Bupati Tapanuli Tengah, mengaku pihaknya telah mengerahkan 24 alat berat, namun jumlah itu masih jauh dari cukup. Ia menyebut daerahnya kehabisan alat untuk membuka jalur terisolir, normalisasi sungai, dan membersihkan material longsor.

Pemerintah daerah telah mengajukan penyewaan alat berat tambahan serta meminta intervensi pemerintah pusat untuk menertibkan perkebunan sawit dan alih fungsi hutan yang diduga memperburuk bencana.

BMKG: Hujan Lebat Masih Akan Terjadi

BMKG memperingatkan potensi hujan lebat akibat bibit siklon tropis 91S yang bergerak di barat Indonesia. Sumatera Barat dan Sumatera Utara diperkirakan terkena dampak paling besar. Kondisi ini membuat warga semakin waspada terhadap banjir susulan dan longsor tambahan.

Warga Butuh Relawan, Logistik, dan Alat Berat

Tokoh pemuda setempat, Lodewik Marpaung, mengatakan bahwa kehadiran relawan dari luar daerah sangat dibutuhkan. Banyak warga lokal masih sibuk menyelamatkan keluarga dan rumah mereka sendiri sehingga tenaga bantuan sangat terbatas.

Kebutuhan mendesak warga meliputi makanan, pakaian, kebutuhan bayi, sepatu boot, dan senter. Selain itu, pembersihan kayu gelondongan, lumpur, dan pembukaan akses jalan masih menjadi tantangan utama.


(Salsabilla Azzahra)

Sumber : Kompas TV, CAKAPLAH.com, BBC News indonesia