TERKINI Jejak Kerusakan Hutan di Balik Banjir Aceh: Warga Terdampak, Ekosistem Runtuh
Jakarta, 2025
Banjir besar yang melanda beberapa wilayah di Aceh bukan sekadar bencana musiman. Di balik luapan air yang merendam pemukiman, terdapat jejak kerusakan lingkungan yang sudah lama diabaikan. Laporan dari organisasi lingkungan menunjukkan bahwa dalam satu dekade terakhir, ratusan ribu hektar hutan di Aceh telah hilang akibat alih fungsi lahan, penebangan liar, perkebunan sawit, dan tambang.
Observasi lapangan memperlihatkan pola yang sama: bukit-bukit yang sebelumnya hijau kini berubah menjadi lahan kosong atau area perkebunan, sementara kawasan tangkapan air tergerus. Hilangnya pepohonan membuat tanah mudah tererosi, sedimentasi sungai meningkat, dan sungai kehilangan kapasitas menahan air saat hujan besar, semua menjadi pemicu utama banjir bandang.
Para ahli lingkungan menyatakan bahwa bencana ini bukan hanya disebabkan oleh hujan ekstrem semata, tetapi lebih sebagai “alarm besar” akibat kerusakan ekologis yang terakumulasi. Mereka mendesak pemerintah dan pemangku kebijakan untuk mengambil langkah cepat: pemulihan hutan, penguatan fungsi daerah resapan air, serta penataan ulang izin pemanfaatan lahan agar bencana seperti ini tak terulang.
Menurut data resmi lingkungan, beberapa wilayah DAS (Daerah Aliran Sungai) di Aceh kini sebagian besar telah berubah menjadi APL (Area Penggunaan Lain), sehingga fungsi alaminya sebagai penyangga air hilang. Tanpa konservasi serius dan restorasi alam, bencana ekologis dan kemanusiaan seperti banjir bandang bisa jadi hanya akan menjadi lebih sering.
Kasus ini menegaskan bahwa bencana ekologis tidak lahir dalam semalam. Pengelolaan lahan yang tidak berkelanjutan, lemahnya pengawasan izin, dan minimnya rehabilitasi kawasan membuat ekosistem Aceh berada dalam kondisi kritis. Banjir hanyalah gejala warnanya kuku dari masalah besar: rusaknya fungsi alam yang dulu melindungi manusia.
Selain kerusakan fisik, banjir juga meninggalkan dampak sosial yang panjang bagi masyarakat. Banyak keluarga kehilangan pekerjaan karena tempat usaha mereka rusak, sementara anak-anak terpaksa berhenti sekolah sementara waktu. Kondisi ini membuat masyarakat semakin rentan, terutama mereka yang secara ekonomi sudah berada pada posisi sulit.

