X

TERKINI Era Baru Kesehatan Gigi: AI Percepat Deteksi, Perawatan Presisi, dan Minim Operasi di Indonesia

19 November 2025 00:10 | Oleh Tim DKYLB 01

DKYLB.com, (Rabu,19/11/2025).

Transformasi besar sedang terjadi dalam dunia kesehatan gigi Indonesia. Seiring pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), layanan kedokteran gigi kini bergerak menuju praktik yang lebih presisi, efisien, dan minimal invasif. Sekretaris Jenderal Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Dr. Eka Erwansyah, menegaskan bahwa penggunaan AI telah menjadi salah satu inovasi paling signifikan dalam meningkatkan kualitas perawatan dan mengurangi tindakan operasional besar yang selama ini sering dilakukan di klinik. 

Menurut Eka, penggunaan AI memungkinkan dokter mendeteksi masalah gigi jauh lebih cepat dibanding metode konvensional. Dengan kemampuan menganalisis radiografi secara otomatis, mendeteksi karies sejak tahap awal, hingga memprediksi kebutuhan perawatan, teknologi ini membantu dokter mencegah kerusakan berkembang lebih parah. “Kalau gigi bisa dipertahankan tanpa dicabut, itu jauh lebih baik,” ujarnya. Dengan deteksi dini, dokter dapat melakukan tindakan konservatif, mempertahankan struktur alami gigi, dan menghindari operasi besar yang mengubah struktur tubuh. 

Perkembangan teknologi material restoratifimaging digital resolusi tinggi, serta alat diagnosis presisi semakin memperkuat arah baru pelayanan kesehatan gigi: perawatan minimal invasif. Pergeseran paradigma ini diprediksi akan berdampak besar dalam lima tahun ke depan, baik di klinik, rumah sakit, maupun lembaga pendidikan kedokteran gigi, seiring integrasi semakin luas dari teknologi digital dan AI. 

Selain dari kalangan profesi, pemerintah juga memberi perhatian besar terhadap peningkatan layanan kesehatan gigi. Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lucia Rizka Andalucia, menegaskan bahwa pemerataan perbekalan kesehatan termasuk instrumen dan alat digital sangat penting, terutama bagi puskesmas yang menjadi garda terdepan deteksi dini. Tingginya beban masalah gigi di masyarakat, termasuk 57 persen penduduk Indonesia yang mengalami gangguan gigi dalam setahun terakhir, membuat pemerataan layanan dan teknologi menjadi kebutuhan mendesak. 

Momentum besar modernisasi ini tercermin dalam penyelenggaraan Indonesia Dental Exhibition & Conference (IDEC) 2025. Acara berskala internasional ini mempertemukan dokter, akademisi, industri, dan pemerintah untuk mendiskusikan inovasi terbaru, termasuk AI dan perawatan minimal invasif. Dengan mengangkat tema Transformation of Dental Health Resiliency, IDEC 2025 menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor demi memperkuat ketahanan layanan kesehatan gigi nasional. 

Ketua IDEC 2025, Dr. Himawan Halim, menekankan bahwa teknologi seperti kecerdasan buatan merupakan komponen vital dalam meningkatkan kualitas praktik. Lebih dari 250 perusahaan dari 11 negara turut memamerkan produk teknologi digital dentistry, sistem pencitraan berbasis AI, dan inovasi peralatan klinis lainnya. Kehadiran peserta internasional dalam jumlah besar menunjukkan besarnya potensi pasar kesehatan gigi Indonesia dan komitmen terhadap adopsi teknologi mutakhir. 

Transformasi digital yang terjadi bukan hanya soal alat yang semakin canggih, tetapi juga sistem layanan yang semakin efisien mulai dari digitalisasi rekam medis, tele-dentistry, hingga penggunaan AI dalam screening awal. Dengan teknologi, pelayanan diharapkan menjadi lebih cepat, tepat, dan minim rasa sakit, sehingga memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien. 

Secara keseluruhan, integrasi AI dalam layanan kesehatan gigi membuka era baru yang menjanjikan: lebih presisi, lebih aman, dan lebih manusiawi. Dengan dukungan pemerintah, profesi, dan industri, Indonesia kini memasuki fase modernisasi penting yang akan menentukan masa depan kesehatan gigi nasional.  


(Salsabilla Azzahra)

Sumber : JAMBI-INDEPENDENT.CO.ID , Liputan6.com, ANTARA News