TERKINI Inflasi Menekan Mahasiswa: Bertahan di Tengah Harga yang Terus Naik
Inflasi yang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir mulai terasa dampaknya bagi mahasiswa Universitas Pancasila. Kenaikan harga bahan pokok, transportasi, dan kebutuhan harian membuat mahasiswa harus beradaptasi dengan pola hidup baru yang lebih hemat. Bagi sebagian mahasiswa, terutama anak kos dan perantau, kondisi ini menjadi tantangan nyata dalam menjaga keseimbangan antara biaya hidup dan kebutuhan akademik.
Zakiya Aqeela, mahasiswa Ilmu Komunikasi yang tinggal di kos sekitar kampus, mengaku kini hidup dalam “mode bertahan.” Ia menjelaskan bahwa hampir semua kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga. “Harga makan naik, listrik naik, sabun pun ikut naik. Uang bulanan yang dulu cukup, sekarang cuma tahan setengah bulan,” ujarnya dengan nada cemas. Kondisi ini membuat banyak mahasiswa harus mengatur pengeluaran dengan lebih ketat agar bisa bertahan hingga akhir bulan.
Menurut Rasya Rafa Pora, mahasiswa asal Maluku Utara yang merantau ke Jakarta, juga merasakan hal serupa. Menurutnya, inflasi bukan lagi sekadar teori dalam buku ekonomi yang ia pelajari di kampus, melainkan kenyataan yang langsung memengaruhi kehidupan sehari-hari. “Kiriman dari rumah tetap, tapi semua harga di Jakarta naik. Dulu bisa makan tiga kali, sekarang dua kali sambil pura-pura kenyang,” tuturnya sambil tersenyum pahit. Ia menilai, inflasi mengajarkan mahasiswa untuk lebih kreatif dan mandiri dalam mengelola keuangan.
Sementara itu, mahasiswa yang pulang-pergi seperti Elsa Adinda Putri pun tidak luput dari dampak inflasi. Biaya transportasi yang terus naik membuat pengeluaran hariannya membengkak. “Transport naik terus, bensin mahal, uang saku makin tipis. Walau gak bayar kos, tetap aja daya beli turun,” ujarnya. Ia menambahkan, perjalanan ke kampus kini terasa semakin berat, bukan karena jarak, tetapi karena beban biaya yang meningkat setiap hari.
Penjelasan Fakta dan Data Hasil Observasi
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta Selatan, tingkat inflasi pada triwulan ketiga tahun 2025 mencapai 6,1 persen, didorong oleh kenaikan harga pangan dan energi. Kebijakan subsidi bahan bakar yang dikurangi turut memperburuk daya beli masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa.
Kondisi ini berdampak sosial cukup signifikan di lingkungan kampus, di mana banyak mahasiswa mulai menekan pengeluaran konsumtif dan mengganti pola makan menjadi lebih sederhana. Kantin kampus melaporkan penurunan jumlah pembeli sekitar 15–20 persen sejak kenaikan harga bahan pokok dua bulan terakhir.
Penutup (Ringkasan dan Refleksi Narasumber)
Meski beban ekonomi meningkat, para mahasiswa Universitas Pancasila berusaha untuk tetap optimis. Mereka belajar berhemat, mencari pekerjaan paruh waktu, dan saling mendukung antar-teman untuk bertahan di masa sulit. “Inflasi bikin kita belajar hidup realistis, tapi juga kreatif. Kadang, kesulitan justru bikin kita lebih kuat,” kata Naya menutup percakapan.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa inflasi bukan hanya urusan angka ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan psikologis generasi muda yang sedang menempuh pendidikan.
Keterangan Tambahan:
Reporter: Sherika Talenta Bestari
Tanggal Liputan: 11 November 2025
Lokasi: Universitas Pancasila, Jakarta Selatan

