X

TERKINI Pasar Prumnas Klender: Hiruk Pikuk Pagi yang Tak Pernah Padam

11 November 2025 12:57 | Oleh Tim DKYLB 01

Jakarta Timur - Sabtu pagi, 8 November 2025

Saat sebagian orang masih menikmati sisa kantuk akhir pekan, lorong-lorong sempit di Pasar Prumnas Klender sudah penuh dengan kesibukan. Suara pedagang memanggil pelanggan, aroma bumbu dapur yang bercampur dengan wangi daun pisang dan ayam potong segar, serta riuh tawa pembeli yang sedang menawar harga semuanya berpadu membentuk harmoni khas pasar tradisional yang tak pernah lekang oleh waktu.

Pasar yang terletak di kawasan padat penduduk Jakarta Timur ini menjadi denyut ekonomi warga sekitar. Setiap pagi, terutama di akhir pekan, ratusan orang datang silih berganti: membawa kantong belanja kain, memanggul sayur, atau sekadar mampir untuk menyapa pedagang langganan mereka.

Ruang Sosial yang Hidup

Bagi Ibu Sri (47 tahun), pedagang sayur yang sudah berjualan lebih dari sepuluh tahun di pasar ini, lapaknya bukan hanya tempat mencari nafkah, tapi juga tempat bersilaturahmi.

“Dari dulu nggak pernah sepi. Pembeli banyak yang udah langganan. Rasanya kayak keluarga sendiri,” katanya sambil tersenyum saat menata kangkung segar di meja jualannya.

Ia bercerita bahwa harga bahan pokok akhir-akhir ini relatif stabil, meski cabai merah sempat naik menjadi Rp65.000 per kilo. “Yang penting barangnya bagus, pembeli pasti tetap datang,” ujarnya santai.

Tak jauh dari sana, Pak Jaya (52 tahun) sibuk melayani antrean di lapak ayam potongnya.

“Sekarang banyak orang belanja online, tapi beda rasanya kalau di pasar. Di sini bisa pilih langsung, bisa tawar, bisa ngobrol juga,” ujarnya sambil menimbang ayam pesanan pelanggan.

Kehangatan seperti ini yang membuat pasar tradisional tetap hidup meski dunia sudah serba digital. Di tengah gempuran e-commerce dan supermarket modern, pasar seperti Prumnas Klender masih jadi pilihan utama warga karena menghadirkan sesuatu yang tak bisa dibeli secara daring: interaksi manusia yang nyata dan tulus.

Harga Bersahabat, Hubungan Erat

Bagi Ibu Tuti (39 tahun), berbelanja di pasar bukan sekadar urusan ekonomi, tapi juga rutinitas sosial yang menyenangkan.

“Kalau di supermarket nggak bisa nawar, di sini bisa ngobrol sama penjual. Kadang malah dikasih bonus sayur,” katanya sambil tertawa kecil.

Sementara itu, Bapak Rudi (45 tahun) yang sudah tinggal di kawasan Klender sejak kecil mengaku tak pernah bosan datang ke pasar ini.

“Pasar Prumnas Klender itu kayak pusat kehidupan warga. Di sini ketemu teman lama, kenalan baru, dan selalu ramai dari pagi sampai siang,” ujarnya.

Harga barang yang cenderung stabil dan kualitas produk yang segar menjadi alasan utama masyarakat tetap setia berbelanja di pasar tradisional. Selain itu, banyak pembeli merasa lebih percaya dengan pedagang yang sudah mereka kenal bertahun-tahun.

Antara Modernisasi dan Kearifan Lokal

Secara fisik, Pasar Prumnas Klender kini tampak lebih tertata. Ada area khusus untuk sayur, daging, ikan, hingga sembako. Petugas kebersihan juga rutin bekerja menjaga kenyamanan. Meski masih ada kendala seperti lorong sempit dan sistem drainase yang belum sempurna, pasar ini tetap berfungsi baik sebagai pusat ekonomi rakyat.

Revitalisasi yang dilakukan pemerintah daerah dan PD Pasar Jaya perlahan menunjukkan hasil. Lampu penerangan diperbaiki, atap diganti, dan area parkir diperluas. Namun, nilai utama dari pasar ini bukan pada infrastrukturnya — melainkan pada kehidupan sosial dan ekonomi warga yang terus berdenyut di dalamnya.

Pasar yang Punya Cerita

Di tengah modernisasi Jakarta yang terus bergerak cepat, Pasar Prumnas Klender tetap menjadi ruang bagi banyak cerita: tentang perjuangan pedagang kecil, tentang ibu rumah tangga yang setia menawar harga, dan tentang warga yang menjaga tradisi lama dalam kehidupan modern.

Pasar ini bukan sekadar tempat jual beli, tapi wajah ekonomi kerakyatan yang masih bertahan di tengah perubahan zaman. Selama masyarakat masih menghargai interaksi dan kehangatan, pasar seperti Prumnas Klender akan selalu menjadi bagian penting dari denyut kehidupan kota.

Pasar Prumnas Klender bukan hanya tempat berbelanja, tapi juga tempat bercerita tentang kesederhanaan, ketulusan, dan semangat hidup warga Jakarta Timur.


(Elsa Adinda Putri)