X

TERKINI Kecanduan Validasi Digital: Ketika Hidup Harus Aesthetic untuk Dianggap “Ada”

08 November 2025 21:03 | Oleh Tim DKYLB 01

Jakarta – Fenomena pencarian validasi digital terus meningkat di kalangan anak muda Indonesia. Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Pinterest membentuk standar estetika baru, di mana kehidupan dianggap bernilai jika tampak menarik secara visual dan mendapat pengakuan publik melalui likes, komentar, dan tayangan.


Tekanan ini membuat banyak anak muda merasa harus selalu tampil sempurna di dunia maya. Mulai dari outfit, kafe yang dikunjungi, aktivitas akhir pekan, hingga proses perjalanan hidup. “Ketika likes dan komentar menjadi ukuran nilai diri, individu mulai kehilangan autentisitas,” ujar Psikolog Klinis Universitas Indonesia, Nadya Karima Melati.


Riset DataReportal (2024) menunjukkan lebih dari 74% pengguna internet Indonesia berusia 18–30 tahun menganggap media sosial memengaruhi rasa percaya diri mereka. Sementara survei YouGov (2023) mencatat 62% Gen Z global merasa cemas jika unggahan mereka tidak mendapat respons, tren serupa juga terlihat di Indonesia.


Budaya Aesthetic & Tekanan untuk Selalu Sempurna

Fenomena ini ditandai oleh budaya “post to exist”, di mana aktivitas baru dianggap bermakna jika diunggah.

Beberapa pola yang meningkat di media sosial:

  • Mengkurasi hidup agar terlihat “ideal”
  • Membandingkan pencapaian melalui konten orang lain
  • Takut ketinggalan tren visual (FOMO aesthetic)
  • Kecenderungan menghapus unggahan yang tidak ramai interaksi
  • Mengukur kebahagiaan dari penerimaan publik


Dampak Psikologis

Pakar menilai pencarian validasi digital berlebihan berpotensi memicu:

  • Penurunan kepercayaan diri
  • FOMO (Fear of Missing Out)
  • Gangguan citra diri (self-image distortion)
  • Overthinking terhadap opini publik
  • Kesepian digital meski terlihat aktif online


Fenomena ini dikenal sebagai “paradox of connection”, di mana semakin sering terhubung secara digital, semakin besar potensi merasa sendiri.


Cara Mengurangi Ketergantungan Validasi Online

Pakar memberi beberapa rekomendasi:

  • Tentukan batas waktu penggunaan media sosial
  • Prioritaskan koneksi nyata dengan orang sekitar
  • Konsumsi konten yang positif dan realistis
  • Fokus pada kegiatan offline yang bermakna
  • Tingkatkan apresiasi diri tanpa mengandalkan respons online

Autentik lebih penting daripada estetika digital,” ujar Nadya.


Jadi kesimpulan nya budaya visual digital memberi ruang kreativitas, namun juga memunculkan tekanan sosial baru. Kesadaran kesehatan digital dibutuhkan agar penggunaan media sosial tetap produktif, membangun, dan tidak menggerus kesehatan mental.



Referensi

  • DataReportal. (2024). Digital 2024 Indonesia Report.
  • YouGov. (2023). Gen Z & Social Media Pressure Study.
  • Melati, N. K. (2022). Digital Identity & Youth Mental Health in Indonesia. UI Psychology.


Muhamad Aba