X

TERKINI Bullying di Era Digital: Dari Ruang Kelas ke Layar Gawai

27 Oktober 2025 21:35 | Oleh Tim DKYLB 01

Apa itu Bullying?

Bullying adalah perilaku menyakiti yang dilakukan secara berulang dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan antara pelaku dan korban.
Salah satu bentuknya adalah Cyberbullying (perundungan daring) — yaitu bullying yang menggunakan teknologi digital, seperti media sosial, pesan instan, email, atau platform daring lainnya.
Misalnya, menurut UNICEF:

"Bullying terjadi secara online, kamu bisa merasa seperti diserang dari mana-mana, bahkan di dalam rumahmu sendiri." UNICEF juga menyebut bahwa cyberbullying meninggalkan jejak digital — rekaman atau catatan yang bisa menjadi bukti ketika membantu menghentikan perilaku salah tersebut.

Bentuk-Bentuk & Ciri-Ciri Bullying

Beberapa ciri bullying menurut UNICEF:

  • Tindakan disengaja untuk menyakiti atau mempermalukan.
  • Terjadi secara berulang-ulang.
  • Ada ketidakseimbangan kekuasaan — pelaku memiliki posisi lebih kuat (fisik, sosial, atau melalui teknologi/daring).

Contoh cyberbullying antara lain:

  • Mengirimkan pesan atau komentar yang kasar, menghina atau mengancam melalui platform daring.
  • Membuat akun palsu, menyebarkan foto atau video memalukan seseorang, mencuri identitas online untuk mempermalukan.
  • Penyebaran kebohongan atau gosip melalui internet yang ditujukan untuk merendahkan korban.

Dampak Bullying dan Cyberbullying

Bullying, termasuk di dunia daring, memiliki dampak serius, baik fisik, emosional, maupun psikologis:

  • Secara mental: korban bisa merasa kesal, malu, merasa bodoh atau marah.
  • Secara emosional: kehilangan minat terhadap kegiatan yang disukai, merasa terisolasi.
  • Secara fisik: kurang tidur, sakit kepala, sakit perut, kelelahan.
  • Dampak jangka panjang: dapat meningkatkan risiko depresi, kecemasan, bahkan pikiran bunuh diri.
    Cyberbullying lebih sulit dihindari karena “mengejar” korban ke ruang daring/domestik, dan jejak digital membuatnya dapat berulang atau tersebar luas.

 

Contoh Kasus di Indonesia

Salah satu contoh nyata terjadi di SMPN 8 Depok, Kota Depok – di mana seorang siswa inklusi (ABK) berinisial R (15 tahun) menjadi korban bullying fisik dari teman-teman sekolahnya.
Beberapa poin penting dari kasus tersebut:

  • Peristiwa terjadi pada tanggal 2 Oktober, korban kemudian dirawat di RS Brimob karena memukul kaca kelas akibat frustrasi yang dialaminya.
  • Korban menyatakan bahwa ia trauma dan takut untuk kembali ke sekolah.
  • Pihak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Depok segera melakukan kunjungan ke korban dan keluarga, serta merencanakan pendampingan psikologis dan edukasi bagi guru dan siswa di sekolah tersebut.
    Kasus ini menggambarkan bahwa bullying bukan hanya perkara “cekur” atau “main‐main”, melainkan memiliki efek traumatis dan memerlukan penanganan serius.

 

Mengapa Bullying Terjadi & Faktor Risiko

Beberapa faktor yang mendasari terjadinya bullying/cyberbullying antara lain:

  • Ketidaktahuan atau minimnya literasi digital, sehingga perilaku daring yang salah sulit diidentifikasi.
  • Anonimitas atau jarak dalam dunia daring yang membuat pelaku merasa “aman” melakukan tindakan tanpa konsekuensi langsung.
  • Kekuasaan atau posisi sosial yang berbeda (misalnya anak inklusi atau berbeda fisik lebih rentan menjadi korban) — menurut UNICEF, anak-anak penyandang disabilitas, migran, atau yang secara sosial terpinggirkan lebih rentan.
  • Tekanan teman sebaya, keinginan untuk diterima atau menunjukkan “kuasa” di kelompok sosial.

 

Apa yang Bisa Dilakukan?

Untuk Korban

  • Segera berbicara dengan orang dewasa yang dipercaya (orang tua, guru, konselor) jika mengalami bullying atau cyberbullying.
  • Simpan bukti (screenshot, pesan, postingan) bila bullying terjadi daring, karena ini bisa membantu pelaporan.
  • Hentikan interaksi dengan pelaku bila memungkinkan (blokir, batasi) dan cari dukungan emosional agar tidak merasa sendiri.

Untuk Pelaku

  • Pelajari dampak dari tindakan tersebut, hentikan perilaku, minta maaf dan lakukan perubahan positif.
  • Jika tidak menyadari perilakunya sebagai bullying, penting untuk edukasi dan pengawasan dari orang dewasa atau institusi sekolah.

Untuk Orang Tua, Sekolah, dan Institusi

  • Orang tua hendaknya aktif berbicara dengan anak tentang apa yang mereka lakukan daring maupun di sekolah, mengajarkan empati dan rasa hormat.
  • Sekolah harus menciptakan lingkungan inklusif dan aman bagi semua siswa — contoh kasus Depok menunjukkan bagaimana sekolah bersama lembaga terkait harus responsif terhadap korban inklusi.
  • Institusi digital/media sosial dan pemerintah perlu meningkatkan literasi digital, regulasi pelaporan bullying daring, serta pengawasan platform untuk melindungi anak-anak.

 

Penutup

Bullying — baik yang tatap muka maupun daring (cyberbullying) — adalah persoalan serius yang membutuhkan kesadaran dan respons kolektif. Dari pengertian, bentuk, dampak, hingga contoh konkret di Indonesia, jelas bahwa tindakan ini bukanlah hal sepele. Setiap anak berhak mendapatkan lingkungan yang aman, baik di sekolah maupun di ruang daring. Penanganan yang cepat dan tepat, edukasi yang berkelanjutan, serta peran aktif dari keluarga, sekolah, dan masyarakat sangatlah penting untuk mencegah dan mengatasi bullying.


Sumber

  • “Apa itu cyberbullying dan bagaimana menghentikannya?” — UNICEF Indonesia.
  • “Kasus Bullying di SMPN 8, DP3AP2KB Depok Fokus Pemulihan Psikologis Korban” — Berita Depok, 4 Oktober 2024.
  • Dokumen analisis “Pelindungan Anak dari Ancaman Kekerasan di Dunia Digital” (DPR RI) yang menyebut cyberbullying sebagai salah satu bentuk kekerasan anak di dunia digital.

 


Fadli Zon minta Ahmad Dhani Stem Piano Memeriahkan Hari Musik

Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa musik Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa, mulai dari musik tradisional hingga musik kontemporer yang terus berkembang seiring dengan penguatan ekosistem industri musik nasional, dia menekankan pentingnya kolaborasi antara musisi, seniman, budayawan, dan pemerintah.

10 Maret 2026 15:59 | tokoh