X

TEKNOLOGI Tim UGM Kembangkan Alat Penyergap Karbon Real Time

25 Oktober 2023 05:33 | Oleh TB Setyawan

DKYLB.COM (25/10/2023) –  Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta berhasil mengembangkan inovasi teknologi penyerap gas karbon (CO2) terintegrasi yang bisa dipantau secara real time berbasis sensor cerdas.

Mereka menyebut teknologi itu "CAPTURE" atau Carbon Abatement, Performance Traking, and Utilization with Real Time Evaluation.

"Teknologi yang kami kembangkan ini bisa menangkap gas CO2 dari udara melalui proses adsorpsi fisika dengan membran yang terbuat dari ekstrak tempurung kelapa," kata Ketua Tim Pengembang Teknologi Javier Ahmad melalui keterangan resmi UGM di Yogyakarta dikutip Rabu (25/10/2023).

Baca Juga: Jelang Konser Emas 50 Tahun, God Bless Rilis Video Musik Musisi

Menurut Javier pengembangan alat itu dilatarbelakangi keinginan untuk mendukung upaya Indonesia dalam pengurangan emisi gas rumah kaca baik di tingkat regional maupun global.

Kendala terbesar dalam menyerap gas CO2 yang sudah terlepas ke atmosfer adalah luasnya area penyebaran sehingga diperlukan alat yang mampu mengarahkan udara mengandung CO2 ke dalam filter yang mampu secara spesifik menangkap CO2 dari udara.

Oleh sebab itu, dia bersama tim menggagas pengembangan teknologi untuk menangkap gas CO2 dari udara melalui proses adsorpsi fisika dengan membran yang terbuat dari ekstrak tempurung kelapa.

Baca Juga: Generasi Milenial Bukan Cuma Angka, Tetapi Penentu Pemilu 2024

"Penangkapan CO2 dengan adsorpsi dianggap sebagai metode yang menjanjikan karena konsumsi energinya yang rendah selama regenerasi, biaya investasi yang rendah, dan tidak ada polutan atau produk sampingan yang dihasilkan," ujar mahasiswa Teknik Fisika UGM ini.

Alat tersebut dibuat dengan pemanfaatan tempurung atau batok kelapa sebagai membran adsoprsi, kata Javier, karena keberadaannya yang sangat melimpah di Tanah Air dan belum dimanfaatkan secara optimal.

"Batok kelapa ini memiliki kadar abu yang rendah, mikropori yang banyak dan memiliki reaktivitas tinggi. Lalu, dari beberapa jurnal diketahui batok kelapa sudah banyak digunakan sebagai filter karbon dan menunjukkan hasil yang bagus," ujar dia.

Baca Juga: Beras Mahal, Legislator: Pemerintah Harus Cepat Atasi Inflasi Harga!

Wahyu T. Wicaksono, Anggota tim pengembang,  menambahkan CAPTURE bekerja dengan menghisap udara ambien ke dalam sistem.

Udara yang masuk kemudian difiltrasi dengan filter makro dan filter karbon sebagai adsorben sehingga hasilnya bisa dipantau secara langsung baik terkait kondisi udara maupun kualitas filter adsorben. Udara bebas karbon dan kejenuhan filter juga dapat diamati secara real time.

"Rencananya alat digunakan pada bangunan hijau. Alat ini bekerja dengan menarik udara dari luar bangunan kemudian menangkap unsur karbon yang ada di udara tersebut kemudian meneruskan udara yang sudah bersih ke dalam bangunan hijau tersebut," kata dia. (*)


Fadli Zon minta Ahmad Dhani Stem Piano Memeriahkan Hari Musik

Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa musik Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa, mulai dari musik tradisional hingga musik kontemporer yang terus berkembang seiring dengan penguatan ekosistem industri musik nasional, dia menekankan pentingnya kolaborasi antara musisi, seniman, budayawan, dan pemerintah.

10 Maret 2026 15:59 | tokoh