OTOMOTIF Vivo dan BP Batal Beli BBM Pertamina, Bahlil Sebut Negosiasi Masih Berjalan
JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan tanggapan terkait kabar batalnya rencana pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh SPBU swasta, seperti PT Vivo Energy Indonesia dan BP-AKR, dari PT Pertamina (Persero).
Sebelumnya, pembelian dari Pertamina disarankan sebagai solusi atas menipisnya stok BBM di SPBU swasta. Namun, rencana itu batal.
Bahlil menyebut bahwa proses negosiasi antara badan usaha swasta tersebut dengan Pertamina masih berlangsung secara business to business (B2B).
"B to B-nya silakan. Kami (pemerintah) hanya memberikan guidance (panduan). Selebihnya diatur (secara B2B)," kata Bahlil saat ditemui di Gedung BPH Migas, Jakarta.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, perwakilan Vivo Energy Indonesia mengungkapkan pembatalan pembelian 40.000 barel BBM dari Pertamina disebabkan adanya beberapa hal teknis yang belum dapat dipenuhi oleh Pertamina.
Pihak Pertamina menjelaskan, salah satu kendala yang muncul adalah adanya kandungan etanol dalam base fuel (bahan bakar murni) milik Pertamina. Kandungan ini dinilai belum sesuai dengan spesifikasi produk yang dijual oleh SPBU swasta.
Meski demikian, Bahlil menegaskan bahwa stok BBM dalam negeri saat ini berada dalam kondisi yang sangat aman dan cukup untuk kebutuhan hingga 21 hari ke depan.
Ia juga kembali menekankan bahwa pemerintah telah bersikap adil dengan menambah kuota impor BBM untuk SPBU swasta sebesar 10% lebih tinggi dari kuota tahun 2024.
"Jadi tidak ada alasan dan tidak ada persepsi bahwa BBM kita menipis. Nggak ada. Sudah penuh. Kuota impornya pun kita sudah berikan," tandasnya.

