METROPOLITAN KSAD Maruli Simanjuntak Jelaskan Alasan Biaya Sumur Bor Rp150 Juta di Lokasi Bencana.
Jakarta — Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak memberikan keterangan mengenai anggaran pembangunan sumur bor berbiaya Rp150 juta yang sempat menjadi perbincangan publik karena digunakan untuk kebutuhan air bersih di wilayah terdampak bencana di Sumatera.
Maruli menjelaskan bahwa pembangunan sumur tersebut berbeda dengan sumur rumah tangga biasa. Sumur yang ditargetkan dibangun untuk masyarakat pascagempa dan banjir di sejumlah kabupaten/kota Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara itu harus dibor hingga kedalaman sekitar 100 sampai 200 meter agar mencapai titik mata air yang dapat menghasilkan debit air cukup besar dan berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan beberapa rumah atau bahkan satu desa.
Menurutnya, biaya Rp150 juta itu mencakup pengeboran dalam, instalasi pipa, tangki air serta semua perlengkapan pendukung sehingga layak dipakai oleh banyak warga. Maruli menegaskan bahwa biaya pembangunan sumur tersebut lebih besar daripada sumur rumah tangga, yang biasanya hanya dipakai untuk satu keluarga dan biayanya jauh lebih rendah (misalnya di kota besar kurang dari Rp10 juta).
Isu ini mencuat setelah dalam rapat terbatas yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto di Aceh Tamiang, Maruli bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memaparkan kepada Presiden bahwa pengeboran sumur dalam dengan kedalaman 100-200 meter bisa mencapai sekitar Rp100-150 juta. Dalam forum itu, Presiden Prabowo menilai angka tersebut masih tergolong wajar jika melihat kebutuhan teknis dan hasil yang diharapkan.
Penjelasan Maruli ini muncul di tengah sorotan publik terkait efektivitas anggaran pembangunan infrastruktur dasar bagi korban bencana, serta perbandingan dengan biaya sumur bor yang dilakukan secara mandiri oleh warga setempat.
Brayen Christyan Prabowo
Sumber:
kompas.com
antaranews.com

