X

KESEHATAN bir vaksin

12 Januari 2026 01:59 | Oleh Tim DKYLB 01

BETHESDA – Seorang ilmuwan virologi ternama, Chris Buck, baru-baru ini memicu kontroversi di dunia kesehatan internasional setelah memproduksi dan mengonsumsi "bir vaksin" buatannya sendiri untuk melawan virus polioma. Buck, yang bekerja di National Cancer Institute (NCI), melakukan tindakan nekat ini di dapur pribadinya setelah komite etika National Institutes of Health (NIH) melarangnya melakukan uji coba pada manusia. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap lambatnya birokrasi pengembangan vaksin, sementara banyak pasien, termasuk anak-anak, menderita akibat infeksi virus yang dapat menyebabkan kanker dan kegagalan organ.

Motivasi di Balik Inovasi Chris Buck telah mempelajari virus polioma selama 15 tahun dan menemukan 4 dari 13 jenis virus yang menginfeksi manusia. Motivasi utamanya muncul setelah ia melihat anak-anak yang menderita hemorrhagic cystitis (nyeri kandung kemih parah) berteriak sangat keras hingga rumah sakit harus memasang peredam suara. Kecewa dengan "tembok es" birokrasi dan lisensi yang menghambat akses vaksin bagi mereka yang sekarat, Buck memutuskan untuk mendirikan Gusteau Research Corporation, sebuah organisasi nirlaba pribadi untuk melanjutkan risetnya di luar pengawasan tempat kerjanya.

Rahasia Sains dalam Bir Vaksin ini dikembangkan menggunakan ragi Saccharomyces cerevisiae, jenis ragi yang umum digunakan untuk membuat roti dan bir. Buck merekayasa ragi tersebut secara genetik agar menghasilkan protein cangkang luar virus polioma (VP1) yang membentuk partikel mirip virus namun tidak menular. Saat bir tersebut dikonsumsi, ragi hidup bertindak sebagai "kendaraan" yang mengangkut partikel vaksin melewati asam lambung menuju usus. Di dalam usus, ragi akan pecah dan melepaskan muatannya, yang kemudian merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi.

Hasil Eksperimen Mandiri dan Kritik Tajam Dalam laporan yang diunggah di platform Zenodo.org, Buck mencatat bahwa setelah meminum bir tersebut, kadar antibodinya terhadap beberapa subtipe virus polioma meningkat tanpa efek samping yang buruk. Namun, komunitas ilmiah menyatakan keprihatinan mendalam. Michael Imperiale, pakar virologi dari Universitas Michigan, menegaskan bahwa kesimpulan medis tidak dapat diambil hanya dari pengujian pada dua orang saja (Buck dan saudara laki-lakinya). Selain itu, ada kekhawatiran bahwa metode DIY ini bisa dimanfaatkan oleh kelompok anti-vaksin atau merusak kepercayaan publik terhadap prosedur pengujian vaksin yang standar.

Status Hukum dan Masa Depan Meskipun vaksin biasanya dikategorikan sebagai obat, Buck berargumen bahwa produknya adalah "makanan atau suplemen diet" karena bahan-bahannya sudah ada dalam pasokan makanan manusia. Di bawah regulasi Amerika Serikat, suplemen makanan tidak memerlukan uji klinis berlapis seperti obat-obatan selama tidak mengklaim dapat menyembuhkan penyakit tertentu secara spesifik. Melalui saudaranya, Andrew Buck, ia mulai menjual strain ragi tersebut kepada ilmuwan lain, dengan harapan siapa pun bisa "memasak" vaksin mereka sendiri di dapur masing-masing jika akses medis resmi tertutup.

Aditiya Sastra Wijaya 7024210006

https://www.sciencenews.org/article/vaccine-beer-polyomavirus-chris-buck



Fadli Zon minta Ahmad Dhani Stem Piano Memeriahkan Hari Musik

Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa musik Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa, mulai dari musik tradisional hingga musik kontemporer yang terus berkembang seiring dengan penguatan ekosistem industri musik nasional, dia menekankan pentingnya kolaborasi antara musisi, seniman, budayawan, dan pemerintah.

10 Maret 2026 15:59 | tokoh