KESEHATAN KESEHATAN MENTAL ANAK ‘KONDISI ANAK DAN REMAJA DIINDONESIA TIDAK BAIK-BAIK SAJA’
DKYLB.COM (MINGGU 11/01/2026)
Berita
gangguan mental pada remaja di Indonesia menunjukkan angka yang
mengkhawatirkan, dengan survei I-NAMHS 2022 mengungkap 1 dari 3
remaja (sekitar 15,5 juta) mengalami masalah kesehatan mental, dan sekitar 2,45
juta di antaranya mengalami gangguan mental klinis seperti gangguan cemas dan
depresi, dipicu oleh tekanan akademik, media sosial, perundungan, hingga
kurangnya dukungan keluarga. Kasus terus meningkat, bahkan ada peningkatan
tajam di Korea Selatan, menunjukkan isu global ini memerlukan perhatian serius
dari orang tua dan sistem pendidikan, dengan gejala seperti perubahan perilaku,
menarik diri, dan isu bunuh diri menjadi sinyal bahaya yang perlu
ditindaklanjuti dengan bantuan profesional.
Meski kesadaran orang tua dan lingkungan juga meningkat, gejala awal pada anak masih sering kali disalahartikan sebagai "nakal," "malas," atau "manja," alih-alih sebagai tanda masalah kesehatan mental.Psikolog dan pendidik, Najelaa Shihab, menyampaikan permasalahan kesehatan mental dipengaruhi oleh banyak sekali faktor. Pengasuhan di rumah, pembelajaran guru di sekolah, interaksi dengan teman sebaya, juga pengalaman dan kecenderungan individual anak dan remaja, bisa mempengaruhi kesehatan mentalnya.
Tidak hanya di Indonesia, beberapa negara seperti
Korea Selatan, Kerajaan Bersatu (United Kingdom/UK), dan Amerika Serikat juga
menghadapi problem serupa.
Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga
memperkirakan satu dari tujuh anak usia 10-19 tahun mengalami kondisi gangguan
kesehatan mental.
Menurut WHO, anak dan remaja dengan kondisi kesehatan mental sangat rentan terhadap pengucilan sosial, diskriminasi, stigma yang bisa berpengaruh pada kesiapan untuk mencari bantuan, kesulitan pendidikan, perilaku berisiko, kesehatan fisik yang buruk, dan pelanggaran hak asasi manusia.
(GINNA ROUDLOTUL JANNAH)
https://youtu.be/ygQKdriTcPc?si=qMEm-K-5Ko9D43B1

