X

HUKUM Delta Force AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro dalam Operasi Malam di Caracas

11 Januari 2026 16:17 | Oleh Tim DKYLB 01

CARACAS/WASHINGTON DC - Dalam operasi militer rahasia bertajuk "Absolute Resolve", pasukan elite Delta Force Amerika Serikat (AS) berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, di kediaman resmi mereka di Caracas pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat. Aksi ini, yang diperintahkan langsung oleh Presiden Donald Trump, memicu gelombang kontroversi global karena dianggap sebagai intervensi militer paling berani AS di Amerika Latin sejak invasi Panama 1989.

Operasi dimulai sekitar pukul 02.01 waktu lokal ketika tim Delta Force mendarat menggunakan helikopter Black Hawk setelah pasukan pendukung memutus aliran listrik di seluruh kompleks Miraflores Palace. Menurut laporan intelijen CIA yang dirangkum NBC News, Maduro berusaha kabur ke ruang bunker baja anti peluru, tetapi pintu besi tebal itu berhasil dibobol dengan obor termit dalam waktu kurang dari dua menit. Maduro, yang sedang mengenakan piyama, ditangkap tanpa perlawanan bersama Flores, sementara pengawal pribadinya ditangkap atau dilumpuhkan.

Presiden Trump segera mengumumkan keberhasilan misi melalui platform Truth Social-nya, menyebut Maduro sebagai "pemimpin narco-state terbesar di dunia" yang bertanggung jawab atas pengiriman ribuan ton kokain ke AS serta kolaborasi dengan kelompok teroris seperti FARC dan Hezbollah. "Hari ini, keadilan telah ditegakkan. Maduro dan gengnya akan diadili di pengadilan AS atas kejahatan mereka terhadap rakyat Venezuela dan dunia," tulis Trump, yang menambahkan bahwa operasi ini melibatkan lebih dari 150 pesawat tempur, kapal induk USS Gerald R. Ford, dan ribuan personel.

Kronologi Lengkap Operasi

Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, mengungkapkan dalam konferensi pers bahwa perencanaan "Absolute Resolve" telah berlangsung selama enam bulan. Tim CIA memetakan rutinitas harian Maduro, termasuk jadwal makan malam, waktu tidur, hingga lokasi kandang anjing peliharaannya. Drone pengintai RQ-180 terbang rendah di atas Caracas sehari sebelumnya untuk memastikan tidak ada pertahanan udara yang aktif. Saat serbuan, ledakan di Fort Tiuna—markas militer utama Venezuela—menghancurkan gudang senjata, mencegah respons pasukan loyalis Maduro.

Maduro dan Flores langsung dievakuasi ke Guam melalui pesawat C-17 Globemaster, sebelum diterbangkan ke pusat penahanan berkeamanan tinggi di New York. Jaksa Agung Pam Bondi menyatakan bahwa dakwaan federal meliputi konspirasi narkoba skala besar (mirip kasus 2020 senilai USD 15 miliar), perdagangan senjata ilegal, dan pencucian uang melalui perusahaan minyak PDVSA. "Ini bukan hanya soal Maduro; ini jaringan kriminal transnasional yang telah merampok Venezuela selama 15 tahun," tegas Bondi.

Reaksi Global dan Domestik

Pemerintah Venezuela segera menyebut penangkapan itu sebagai "penculikan barbar oleh imperialis AS", dengan Wakil Presiden Diosdado Cabello mengumumkan keadaan darurat nasional. Ribuan pendukung Maduro berdemonstrasi di Caracas, sementara oposisi yang dipimpin Maria Corina Machado menyambutnya sebagai "awal era baru". Rusia dan China mengutuk keras AS melalui PBB, dengan Moskow mengancam sanksi balasan.

 Di AS, Senator Mike Lee (R-Utah) memuji operasi sebagai "keberhasilan luar biasa", sementara Senator Bernie Sanders menyerukan investigasi Kongres atas legalitasnya. Presiden Trump, dalam wawancara Fox News, menyatakan, "Kami tidak akan biarkan diktator narkoba mengacaukannya lagi. Venezuela akan bebas, dan minyaknya kembali mengalir".



Pembuat berita: Muhammad Jundi Prasetya