HUKUM Delta Force AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro dalam Operasi Malam di Caracas
CARACAS/WASHINGTON DC - Dalam operasi militer
rahasia bertajuk "Absolute Resolve", pasukan elite Delta Force
Amerika Serikat (AS) berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan
istrinya, Cilia Flores, di kediaman resmi mereka di Caracas pada Sabtu (3/1/2026)
dini hari waktu setempat. Aksi ini, yang diperintahkan langsung oleh Presiden
Donald Trump, memicu gelombang kontroversi global karena dianggap sebagai
intervensi militer paling berani AS di Amerika Latin sejak invasi Panama 1989.
Operasi dimulai sekitar pukul 02.01 waktu lokal ketika tim
Delta Force mendarat menggunakan helikopter Black Hawk setelah pasukan
pendukung memutus aliran listrik di seluruh kompleks Miraflores Palace. Menurut
laporan intelijen CIA yang dirangkum NBC News, Maduro berusaha kabur ke ruang
bunker baja anti peluru, tetapi pintu besi tebal itu berhasil dibobol dengan
obor termit dalam waktu kurang dari dua menit. Maduro, yang sedang mengenakan
piyama, ditangkap tanpa perlawanan bersama Flores, sementara pengawal
pribadinya ditangkap atau dilumpuhkan.
Presiden Trump segera mengumumkan keberhasilan misi melalui
platform Truth Social-nya, menyebut Maduro sebagai "pemimpin narco-state
terbesar di dunia" yang bertanggung jawab atas pengiriman ribuan ton
kokain ke AS serta kolaborasi dengan kelompok teroris seperti FARC dan
Hezbollah. "Hari ini, keadilan telah ditegakkan. Maduro dan gengnya akan
diadili di pengadilan AS atas kejahatan mereka terhadap rakyat Venezuela dan
dunia," tulis Trump, yang menambahkan bahwa operasi ini melibatkan lebih
dari 150 pesawat tempur, kapal induk USS Gerald R. Ford, dan ribuan personel.
Kronologi Lengkap Operasi
Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, mengungkapkan
dalam konferensi pers bahwa perencanaan "Absolute Resolve" telah
berlangsung selama enam bulan. Tim CIA memetakan rutinitas harian Maduro,
termasuk jadwal makan malam, waktu tidur, hingga lokasi kandang anjing
peliharaannya. Drone pengintai RQ-180 terbang rendah di atas Caracas sehari
sebelumnya untuk memastikan tidak ada pertahanan udara yang aktif. Saat
serbuan, ledakan di Fort Tiuna—markas militer utama Venezuela—menghancurkan
gudang senjata, mencegah respons pasukan loyalis Maduro.
Maduro dan Flores langsung dievakuasi ke Guam melalui
pesawat C-17 Globemaster, sebelum diterbangkan ke pusat penahanan berkeamanan
tinggi di New York. Jaksa Agung Pam Bondi menyatakan bahwa dakwaan federal
meliputi konspirasi narkoba skala besar (mirip kasus 2020 senilai USD 15
miliar), perdagangan senjata ilegal, dan pencucian uang melalui perusahaan
minyak PDVSA. "Ini bukan hanya soal Maduro; ini jaringan kriminal
transnasional yang telah merampok Venezuela selama 15 tahun," tegas Bondi.
Reaksi Global dan Domestik
Pemerintah Venezuela segera menyebut penangkapan itu sebagai
"penculikan barbar oleh imperialis AS", dengan Wakil Presiden
Diosdado Cabello mengumumkan keadaan darurat nasional. Ribuan pendukung Maduro
berdemonstrasi di Caracas, sementara oposisi yang dipimpin Maria Corina Machado
menyambutnya sebagai "awal era baru". Rusia dan China mengutuk keras
AS melalui PBB, dengan Moskow mengancam sanksi balasan.
Pembuat berita: Muhammad Jundi Prasetya

