GAYA HIDUP Fakta kejanggalan wajah Jokowi pakai kacamata kumis tambah Achmad Soemitro serta kecanggihan mesin fotokopi Better Call Saul serial Breaking Bad 2010
DKYLB.com, Kamis (27/3/2025) - Sejumlah fakta terungkap dan terus menjadi pertanyaan kalangan masyarakat terkait dengan bukti ijazah Joko Widodo alias Jokowi.
Foto di ijazah Jokowi beda orang, bentuk bibir, telinga, sampai kacamata padahal Jokowi tidak pakai kacamata sejak muda sampai jompo.
Semakin banyak misteri di balik orang berbeda di ijazah yang diakui milik Jokowi, yang juga berbeda dari orang yang diakui sebagai Jokowi karena orang itu punya bentuk wajah berbeda sangat mencolok dari wajah Jokowi.
Oleh karena itu, selain faktor ijazah, yang juga sangat mencolok adalah bukti skripsi Jokowi yang hanya satu-satunya disediakan di UGM untuk cetakan di bawah tahun 2025 apalagi di tahun 1985.
Rekonstruksi wajah Jokowi yang diklaim sebagai orang di foto ijazah Jokowi semuanya beda tidak ada kesamaan wajahnya selain bibirnya tebal, wajahnya tidak mirip sama sekali dengan Jokowi.
Dari rekonstruksi wajah dengan cara mengambil bagian bibir dan kumisnya untuk ditempelkan di wajah Jokowi, saat dilakukan, jelas orangnya berbeda demikian juga jika diambil bagian kacamatanya, demikian pula bentuk telinga dan hidungnya, semua berbeda.
Jika kita mendatangi perpustakaan UGM, maka di sana petugas akan menyampaikan bahwa sejumlah skripsi masa lalu tidak ditempatkan lagi di perpustakaan dan di era sebelum ada komputer canggih bisa dipastikan belum ada digitalisasi termasuk untuk skripsi yang ditulis di tahun sebelum tahun 1992.
Film besutan Vince Gilligan dan Peter Gould adalah serial Breaking Bad, Better Call Saul, yang berakhir dengan El Camino.
Film serial populer itu menunjukkan, era keemasan fotokopi dan percetakan yang buka 24 jam.
Seperti yang ada di beberapa lokasi percetakan di Indonesia mirip suasananya di tahun 2008 sampai 2015 saat film itu diproduksi.
Dalam satu episode, Jimmy Mc Gill alias Saul melakukan tindakan berani dengan menyabotase berkas Mesa Verde, yang mendapatkan kontrak meski awalnya kontrak itu dipegang oleh Kim Wrexler.
Kisah Prima Printshop & Copy Center bisa dibaca di internet, tapi dipastikan tidak secanggih mesin fotokopi dan percetakan di film tersebut.
Tempat usaha ini berkomitmen menuju perusahaan yang professional di bidangnya, yang menyediakan layanan secara lengkap, diakui oleh customer maupun kompetitor, yang mampu secara dinamis bergerak mengiringi setiap perubahan.
Prima menyatakan mereka mau mengubah tantangan menjadi peluang dengan tetap berprinsip kepada kepuasan pelanggan.
Meski demikian, tempat fotokopi ini dan percetakan baru canggih mulai tahun 2000 atau saat pengesahan skripsi dilakukan oleh pihak terkait di UGM yang terdiri dari tandatangan Achmad Soemitro, tanpa tandatangan dewan penguji.
Bergerak di dunia fotokopi dan penjilidan sejak pindah ke Yogyakarta di tahun 1984, Bapak Gunawan (atau biasa dipanggil Pak Guncay), awalnya seorang teknisi mesin fotokopi merangkap sebagai penjual mesin fotokopi.
Lokasinya yang sangat strategis di Jalan Cik Di Tiro 46 Yogyakarta, dekat dengan kampus UGM.
Prima kemudian bermetamorfosis menjadi perusahaan jasa printing di awal tahun 2000, dan memiliki beberapa cabang dengan nama yang berbeda-beda, masih di seputaran Yogyakarta.
Yang cukup istimewa, Prima printshop & Copy Centre merupakan percetakan retail yang bermain di harga premium.
Di atas rata-rata para pemain fotokopi dan printing yang kebanyakan bermain di harga rendah (low price).
Di Yogyakarta, persaingan harga antar sesama pemain fotokopi dan printing kurang sehat bahkan cenderung banting-bantingan harga yang cukup parah terjadi.

