Psikolog klinis, Dr. Anita Wirawan, menjelaskan bahwa media sosial dapat memengaruhi kesehatan mental remaja secara signifikan. “Remaja yang terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial cenderung lebih rentan mengalami gangguan kecemasan, depresi, dan masalah citra tubuh. Namun, di sisi lain, media sosial juga bisa menjadi sarana untuk mendapatkan dukungan emosional,” katanya.
Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa 35% remaja di Indonesia mengalami gangguan kecemasan akibat tekanan di media sosial. Faktor seperti cyberbullying, tekanan untuk mendapatkan pengakuan, serta ekspektasi tak realistis dari konten yang mereka lihat menjadi penyebab utama.
Salah seorang remaja, Dina (17), mengungkapkan pengalamannya: “Setiap hari saya merasa harus terlihat sempurna di media sosial. Kadang saya jadi tidak percaya diri kalau melihat teman-teman saya terlihat lebih sukses atau bahagia.”
Sementara itu, orang tua juga menghadapi tantangan dalam mendampingi anak mereka. Ibu dari Dina, Rina (45), mengatakan bahwa sulit baginya untuk membatasi waktu penggunaan media sosial anaknya tanpa memicu konflik. “Kami mencoba menetapkan aturan, tapi kadang sulit diterapkan karena media sosial sudah jadi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Ahli menganjurkan solusi berupa pembatasan waktu penggunaan media sosial, edukasi tentang literasi digital, serta pendekatan komunikasi yang lebih terbuka antara orang tua dan anak. “Keseimbangan antara dunia maya dan nyata adalah kunci utama,” tambah Dr. Anita.
Hingga saat ini, berbagai pihak, termasuk pemerintah dan komunitas, terus mengupayakan cara untuk memitigasi dampak negatif media sosial terhadap remaja. Kampanye literasi digital dan dukungan psikologis menjadi langkah awal yang dianggap penting.
Dengan fenomena ini, masyarakat diajak lebih peduli terhadap dampak media sosial terhadap kesehatan mental generasi muda.
Dio Rakha Ijlal Faiz (7023210056)