X

TERKINI Ada 2.112 Kasus Bunuh Diri di Indonesia dari 2012-2023, Peneliti BRIN: 985 Kasus Terjadi pada Remaja, Alasannya Masalah Percintaan

27 November 2023 06:04 | Oleh TB Setyawan

DKYLB.COM (27/11/2023) –  Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Organisasi Riset Kesehatan BRIN,  Yurika Fauzai Wardhani, dari 2.112 kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang tahun 2012 sampai 2023, ada 985 kasus yang terjadi pada remaja atau sekitar 46,63% dari keseluruhan jumlah.

Sedangkan menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat setidaknya lebih dari 800.000 kasus bunuh diri setiap tahunnya, dan yang tertinggi adalah pada usia muda (data 2019).

“Kasus bunuh diri pada remaja akhir, dari tahun ke tahun jumlahnya semakin meningkat dibandingkan remaja awal. Seluruh provinsi di Indonesia ada kasus bunuh diri dan yang terbesar ada di Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat,” ujar Yurika pada acara “Meningkatkan Kesadaran, Menyelamatkan Masa Depan: Webinar Kesehatan Jiwa Remaja Menyongsong Momentum Bonus Demografi 2030-2045, baru-baru ini.

Dikatakan, dari data yang didapatkannya melalui analisis web scrapping, ternyata laki-laki mempunyai kecenderungan lebih banyak melakukan bunuh diri.

“Di budaya kita laki-laki dituntut berperan lebih dari wanita, memiliki beban lebih besar, dan kurang mempnyai kesempatan untuk mengekspresikan perasaannya. Sementara jika dilihat dari tingkat pendidikan, yang paling banyak melakukan bunuh diri adalah mahasiswa,” imbuhnya, dikutip dari laman BRIN, Senin (27/11/2023).

Adapun alasan bunuh diri yang paling banyak terjadi adalah karena romantic problem (masalah percintaan).

Selanjutnya karena alasan personal problem yang orang lain tidak bisa pahami. Love and belonging needs seseorang cukup besar sehingga apabila tidak atau kurang terpenuhi dapat memicu keinginan bunuh diri.

Baca Juga: Sejumlah Wilayah di Sukabumi Dilanda Bencana Hidrometeorologi: Banjir, Pohon Tumbang dan Tanah longsor

“Kebutuhan itu harus terpenuhi, karena ketika mereka tidak merasa dicintai dan kepemilikan tidak terpenuhi maka akan menimbulkan stress, yang bisa berujung pada keinginan suicide,” jelasnya.

Sementara itu Sekjen Konsorsium Pekerja Sosial Indonesia, Nurul Eka Hidayati mengungkapkan, terdapat aspek psikososial yang mempengaruhi kesehatan jiwa dan resiko bunuh diri pada remaja.

Aspek-aspek tersebut antara lain masalah kesehatan jiwa yang sudah dimiliki sebelumnya; disabilitias; umur; jenis kelamin; gender expression dan sexual orientation; etnik atau ras; kekerasan fisik psikologis, dan seksual; pekerjaan dan pengangguran; pendidikan; substance abuse; disfungsi keluarga; spiritual dan religion; media sosial/internet; lack of social support; minority; oppression; discrimination and prejudice.

Senada dengan hal tersebut, Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, Diana Setiyawati menyebutkkan terdapat dua kebutuhan psikologis pada remaja yang harus dipenuhi yaitu belongingness dan relationship. Sehingga untuk meningkatkan kesehatan jiwa pada remaja membutuhkan dua peran penting yaitu keluarga dan sekolah.

“Remaja yang sehat itu dia engage dengan kehidupan akademik. Merasa aman secara fisik dan emosi, konsep diri dan efikasi dirinya positif, memiliki kemampuan menarik kesimpulan, dan tentu saja sehat fisik dan mentalnya,” jelas Diana.

Oleh karena itu, menurutnya sekolah harus memberikan rasa aman, belonging, juga penting untuk memberikan ekspektasi atau target-target sebagai guidance bagi remaja. Selain tentunya memberikan dukungan, koneksi dan kesempatan.

“Sedangkan keluarga perlu melakukan regulasi perilaku dan supervisi. Modalnya adalah value yang tumbuh dalam keluarga tersebut,” imbuhnya.

Baca Juga: Kerusuhan Bitung 7 Terduga Pelaku Ditangkap, Kapolda Sulut: Kondisi Aman dan Terkendali

Dalam kaitannya kesehatan jiwa generasi milenial dengan pandangan antroplogi agama, Peneliti Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN, Koeswinarno menjelaskan jarak antara agama dengan pemeluknya.

Ia menyebutkan agama itu dogmatis, sementara pemeluknya rasional. “Maka pelajaran agama yang bagus untuk generasi milenial adalah agama yang punya kekuatan rasionalitas tinggi. Dia (generasi milenial) tidak bisa dipaksakan dengan dogma-dogma tertentu,” sebutnya.  

Agama juga (bersifat) membatasi, sedangkan pemeluk sekarang ingin agama yang bisa membebaskan. Menurut Koeswinarno maka agama yang akan dipercaya oleh generasi milenial adalah agama yang walaupun ada larangan, harus bisa menjelaskan sisi rasionalitasnya. Agama juga cenderung konservatif dan tekstual, sementara anak-anak sekarang bebas (liberal) dan kontekstual. Selain itu agama juga cenderung tradisional sementara generasi sekarang semakin canggih.

Adapun upaya pencegahan dan pengendalian, Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Yurika Fauzai memberikan beberapa solusi yang dapat dilakukan.

Di antaranya  dengan memahami kondisi remaja baik secara individu maupun kelompok, mengatasi kondisi yang dialami remaja secara tepat (menempatkan frame yang sama) dan menggunakan media yang cocok untuk memahami kondisi remaja baik di kota maupun di desa.

Selain itu juga memasukkan topik tentang kesehatan mental, membuat program pencegahan bekerjasama dengan instansi-instansi terkait, dan membuat pencatatan rapi tersentral yang bisa diakses oleh lembaga yang berkepentingan.

Selain itu  diperlukan juga suatu laboratorium sosial tempat berdiskusi bersama untuk persoalan ini. (*)