TERKINI Mengenal Super Flu: Gejala, Penyebaran, dan Cara Melindungi Diri
Jakarta, Sebenarnya, istilah "super flu" tidak termasuk dalam istilah medis resmi. Julukan ini lebih populer digunakan secara umum untuk menggambarkan varian virus influenza yang memiliki sifat lebih agresif, cepat menular, dan menimbulkan gejala yang lebih berat dibandingkan flu biasa.
Secara ilmiah, virus yang sering disebut "super flu" ini termasuk influenza tipe A subvarian H3N2 dengan subclade K. Subclade K merupakan varian baru yang pertama kali terdeteksi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025. Varian ini menimbulkan kekhawatiran karena kemampuan penularannya yang tinggi dan potensi gejala yang lebih parah, sehingga memicu perhatian kesehatan publik di beberapa negara bagian.
Berdasarkan catatan CDC Amerika Serikat hingga 20 Desember 2025, sedikitnya 7,5 juta orang telah terinfeksi virus influenza ini. Dari jumlah tersebut, sekitar 81.000 pasien harus dirawat di rumah sakit, sementara lebih dari 3.100 orang dilaporkan meninggal dunia akibat komplikasi penyakit ini. Beberapa negara bagian di AS, termasuk Colorado, Louisiana, New Jersey, New York, dan South Carolina, saat ini mencatat tingkat prevalensi influenza yang sangat tinggi, menandakan peningkatan penyebaran virus yang signifikan di tengah masyarakat.
Penguatan sistem surveilans yang menyeluruh dan respons cepat terhadap perubahan situasi influenza menjadi hal krusial dalam menghadapi dinamika penyakit ini. Dengan memperkuat deteksi sejak awal melalui sistem surveilans yang terukur, pemerintah dapat membuat kebijakan berbasis data yang tepat sasaran.
Prof. Masdalina Pane, Profesor Riset BRIN di bidang Epidemiologi dan Biostatistik, menjelaskan bahwa keberhasilan pengendalian wabah sangat bergantung pada optimalisasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR). Sistem ini secara teori berfungsi seperti radar yang memonitor ambang batas epidemiologi.
Penguatan surveilans di fasilitas kesehatan tertentu juga penting agar deteksi kasus tetap sensitif. Dengan data berkualitas, pemerintah mampu menilai tingkat keparahan varian secara lebih akurat.
Namun, upaya pemerintah perlu didukung oleh langkah masyarakat untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh.
“Pastikan tidur dan hidrasi cukup, konsumsi makanan bergizi yang kaya vitamin dan mineral, serta rutin beraktivitas fisik,” imbau Masdalina Pane.
Kewaspadaan pribadi perlu menjadi komitmen masyarakat sebagai bentuk resolusi diri. Dengan kombinasi surveilans yang efektif dan disiplin individu, risiko super flu dapat diminimalkan.
Meski tahun baru diwarnai kekhawatiran super flu, masyarakat tak perlu panik. Kemenkes menegaskan kondisi saat ini terkendali, dan pengalaman bangsa Indonesia menghadapi pandemi sebelumnya menjadi pelajaran penting bahwa ketahanan sistem kesehatan bermula dari kedisiplinan individu.
Putri Rachmawati
Sumber: BBC, metrotvnews
Sumber gambar: Pinterest

