TEKNOLOGI Sang "Raja Thocky-creamy" Menolak Turun Takhta: Fenomena Kelangkaan Aula F75 Varian Reaper Switch di Penghujung Tahun
JAKARTA – Di dunia hobi papan ketik mekanikal (mechanical keyboard) yang bergerak sangat cepat, sebuah produk biasanya hanya bertahan populer selama 3-4 bulan sebelum digantikan oleh model baru. Namun, hukum pasar ini tampaknya tidak berlaku bagi Aula F75. Memasuki minggu terakhir Desember 2025, di saat banyak pengguna teknologi terpesona dengan fitur layar LCD pada seri S75, sebuah anomali terjadi: permintaan terhadap seri F75 justru melonjak tajam, menciptakan kelangkaan stok (barang ghoib) di berbagai toko resmi e-commerce.
Mengapa keyboard yang secara fitur fisik terlihat "lebih sederhana" tanpa layar justru lebih dicari oleh kalangan puritan? Jawabannya terletak pada satu hal yang menjadi obsesi utama para penggemar keyboard: Akustik Suara. Minggu ini, diskusi di grup Facebook "Indonesia Mechanical Keyboard Group" (IMKG) didominasi oleh perdebatan panas antara kubu "Tim Layar" (S75) dan "Tim Suara" (F75), dengan kemenangan telak argumen mengarah pada superioritas suara Aula F75.
Rahasia Struktur "Leaf-Spring" dan Akustik 5 Lapis
Aula F75 dirancang dengan filosofi yang berbeda. Jika S75 membagi fokus biayanya untuk komponen layar, F75 menginvestasikan seluruh biayanya pada struktur internal. Minggu ini, banyak reviewer teknologi lokal yang melakukan bedah ulang (teardown) untuk membandingkan keduanya. Hasilnya mengonfirmasi bahwa F75 memiliki implementasi struktur Gasket Mount yang lebih agresif dengan model Leaf-Spring.
Pelat PCB pada F75 memiliki potongan-potongan fleksibel (flex cuts) di setiap baris tombolnya. Hal ini membuat papan sirkuitnya bisa membal naik-turun secara signifikan saat diketik, memberikan sensasi mengetik yang sangat empuk dan tidak membuat jari sakit.
Selain itu, F75 dilengkapi dengan 5 lapisan peredam suara yang sangat padat: Poron sandwich cotton, IXPE switch pad, PET sound pad, Poron switch seat cotton, dan Silicone bottom pad. Kombinasi "jahat" ini menghasilkan profil suara yang disebut anak muda zaman sekarang sebagai "Creamy" atau "Thocky"—suara ketukan yang bulat, dalam, dan menyerupai suara kelereng beradu, tanpa ada gema plastik murahan sedikitpun.
"Banyak yang beli S75 karena lapar mata lihat layarnya. Tapi setelah seminggu, mereka sadar kalau F75 suaranya jauh lebih matang. Makanya minggu ini banyak yang jual S75 bekas review untuk ganti ke F75," ujar Hendra, pemilik toko komputer rakitan di Harco Mangga Dua, saat ditemui Senin (29/12/2025).
Misteri Switch "Reaper" yang Selalu Habis
Faktor lain yang membuat Aula F75 menjadi "Raja" minggu ini adalah ketersediaan varian dengan Leobog Reaper Switch. Switch ini dianggap sebagai "Holy Grail"-nya switch linear bawaan pabrik. Karakteristiknya yang mulus dengan aktuasi 45gf dan material batang (stem) POM murni membuatnya terasa sangat licin tanpa perlu dilumasi ulang (lube) secara manual.
Varian F75 dengan switch Reaper dilaporkan habis terjual dalam waktu kurang dari 5 menit saat sesi restock hari Minggu (28/12/2025) kemarin di salah satu marketplace hijau. Fenomena ini memicu munculnya para "tengkulak" yang menjual unit tersebut dengan harga lebih tinggi 10-20% dari harga ritel resmi (SRP).
Warna-warna tertentu seperti Thunder Black (hitam gradasi abu) dan Glacier Blue (biru muda gradasi putih) menjadi yang paling sulit didapatkan. Desain estetikanya yang minimalis namun berkelas, dengan knob volume metalik di kanan atas yang dikelilingi ring light LED, dinilai lebih timeless dibandingkan desain keyboard gaming yang terlalu ramai.
Konektivitas Badak untuk Produktivitas 2026
Meski berfokus pada suara, F75 tidak melupakan fitur fungsional. Laporan pengguna minggu ini menyoroti ketahanan baterai 4000mAh-nya yang luar biasa. Seorang desainer grafis yang menggunakan F75 via koneksi 2.4GHz dongle mengaku hanya perlu mengisi daya sekali dalam tiga minggu pemakaian intensif (8 jam sehari) dengan lampu RGB menyala pada kecerahan 30%.
Kestabilan koneksi nirkabelnya juga mendapat pujian. Di lingkungan kantor yang padat dengan sinyal Wi-Fi, F75 diklaim jarang mengalami interferensi atau delay saat mengetik cepat. Ini menjadikannya pilihan favorit bagi para coder dan penulis yang membutuhkan meja bersih tanpa kabel (clean setup).
Fitur perangkat lunak (software) pendukungnya juga memungkinkan pengguna untuk memprogram ulang (remap) seluruh tombol dan mengatur pola lampu RGB sesuai selera, meskipun antarmuka aplikasinya masih dinilai sedikit kaku dibandingkan merek premium seperti Logitech atau Razer.
Kesimpulan: Memilih Substansi daripada Gimmick
Naiknya kembali pamor Aula F75 di penghujung tahun 2025 memberikan pelajaran menarik tentang perilaku konsumen Indonesia. Meskipun fitur-fitur canggih seperti layar OLED menarik perhatian di awal, pada akhirnya kualitas dasar—dalam hal ini rasa dan suara mengetik—adalah yang menentukan umur panjang sebuah produk.
Bagi mereka yang sedang mencari keyboard mekanikal di rentang harga Rp 600.000 hingga Rp 800.000 untuk menyambut tahun baru, Aula F75 adalah pilihan yang paling aman dan memuaskan secara sensorik. Ia tidak menawarkan layar untuk menonton GIF kucing, tetapi ia menawarkan orkestra suara "thock" yang menenangkan setiap kali jari Anda menari di atasnya. Seperti kata pepatah di komunitas keyboard: Screen is temporary, Thock is eternal.
Sumber Berita: https://tech4gamers.com/aula-f75-max-review/ dan Analisis Pasar Komputer & Forum Komunitas Mechanical Keyboard Indonesia (Desember 2025)
Adinda salsabilla, 7024210004 FIkom universitas pancasila

