DUNIA KERJA Warung Kontainer Ibu Tutut Tetap Bertahan di Tengah Persaingan Modern
Cikarang, 7 November 2025 — Di tengah perkembangan usaha modern dan meningkatnya kebutuhan hidup, seorang ibu tunggal di Cikarang menunjukkan keteguhan hati yang menginspirasi. Ibu Tutut, pemilik warung kontainer sederhana di kawasan pemukiman Buni Asih, terus bertahan menjalankan usahanya demi menghidupi dua anaknya.
Warung kecil itu tampak biasa dari luar, namun di balik pintu kontainer terdapat perjalanan panjang seorang ibu yang bekerja tanpa lelah. “Awalnya saya buka warung ini karena memang harus memenuhi kebutuhan hidup saya dan dua anak saya,” ujar Ibu Tutut saat ditemui sambil melayani pelanggan yang datang silih berganti.
Setiap hari, ia membuka warung sejak matahari terbit hingga sore hari. Hampir seluruh pekerjaan ia lakukan sendiri, mulai dari menata barang, melayani pembeli, mencatat utang pelanggan, hingga membeli stok ke grosir. “Kadang-kadang dibantu anak, tapi lebih sering sendirian,” tuturnya sambil tersenyum kecil.
Dalam menentukan harga, Ibu Tutut tetap berusaha menjaga agar barang tetap terjangkau bagi warga sekitar. Ia menggunakan metode sederhana berdasarkan harga grosir. “Kalau satu pack makanan Rp9.000 isi sepuluh, ya saya jual satuannya seribu,” jelasnya. Keuntungan kecil tidak menjadi alasan baginya untuk menaikkan harga secara berlebihan.
Meski demikian, perjalanan usahanya tidak selalu berjalan mulus. Penjualan yang menurun dan pelanggan yang menunggak pembayaran menjadi tantangan terbesar. “Kalau penjualan sepi, terus banyak yang hutang pas stok barang habis, pusing mau belanja lagi,” ungkapnya jujur.
Walau menghadapi kondisi sulit, Ibu Tutut tetap menunjukkan ketekunan yang kuat. Ia percaya bahwa kerja keras dan kesabaran akan membawa hasil pada waktunya. “Memulai usaha memang banyak cobaan, tapi masa nggak dicobain ya... yang penting yakin aja dulu,” ujarnya menutup perbincangan.
Kisah Ibu Tutut menjadi gambaran nyata perjuangan pelaku usaha kecil yang bertahan dengan kejujuran dan kerja keras di tengah perubahan zaman. Usaha sederhana yang ia jalankan bukan hanya menjadi sumber nafkah, tetapi juga simbol keberanian seorang ibu dalam memperjuangkan masa depan keluarganya.

