X

DUNIA KERJA Amerika Serikat Klaim Pengaruh Maksimal atas Otoritas Sementara Venezuela Usai Penangkapan Maduro

08 Januari 2026 06:38 | Oleh Tim DKYLB 01

Amerika Serikat (AS) mengklaim memiliki pengaruh maksimal atas otoritas sementara yang kini memimpin Venezuela, setelah operasi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, yang menegaskan bahwa keputusan otoritas interim Venezuela akan “didikte” oleh Washington dalam berbagai hal, termasuk kebijakan minyak. 

Leavitt mengatakan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump dan pejabat tinggi terkait, seperti Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Wakil Presiden J.D. Vance, kini berada dalam koordinasi erat dengan otoritas sementara Venezuela. Meskipun tidak ada pasukan AS di daratan Venezuela, Gedung Putih menyatakan Washington tetap memiliki leverage signifikan atas pemerintahan Delcy Rodriguez, yang dilantik sebagai presiden sementara setelah penahanan Maduro. Dalam konferensi pers itu, Leavitt juga mengonfirmasi bahwa Trump akan mengadakan pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak AS pada Jumat (9/1) untuk membahas rencana keterlibatan sektor minyak Venezuela dengan perusahaan-perusahaan Amerika. Ini mengikuti pengumuman Trump bahwa otoritas sementara telah menyetujui pengiriman 30 hingga 50 juta barel minyak Venezuela ke pasar AS, meskipun rincian kesepakatan tersebut belum dikonfirmasi oleh pihak Caracas.

Kebijakan ini dianggap bagian dari strategi Washington untuk mengendalikan sumber daya minyak Venezuela dan memperluas pengaruh AS dalam sektor energi global. Selain itu, langkah ini diambil setelah blokade angkatan laut dan penangkapan tanker yang membawa minyak Venezuela, yang menggambarkan upaya AS menekan eksportir tersebut secara ekonomi tanpa kehadiran militer di wilayahnya. 

Trump sendiri beberapa kali menyatakan bahwa Amerika akan “mengelola” Venezuela selama periode transisi pemerintahan. Pernyataan ini mencerminkan ambisi pemerintahan AS untuk mempengaruhi arah politik dan ekonomi negara kaya minyak itu setelah rezim Maduro runtuh. Namun, klaim tersebut memicu kritik dari berbagai pihak yang menilai langkah Washington berpotensi melanggar kedaulatan Venezuela. Rencana AS sejauh ini tidak hanya mencakup pengaturan ekspor minyak, tetapi juga kemungkinan investasi besar dari perusahaan-perusahaan minyak besar seperti Chevron, ExxonMobil, dan ConocoPhillips untuk memperbaiki infrastruktur minyak yang telah lama terabaikan di Venezuela. Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari perusahaan-perusahaan tersebut mengenai rencana investasi yang diumumkan Trump.

Sumber

News.detik.com

Faishal Zhafran