X

DAERAH Mengenal Sejarah Museum Seni Rupa dan Keramik di Ibukota Jakarta

15 Juni 2023 19:21 | Oleh Agung Handayanto

 

D K Y L B.com Kamis (15/6/2023) - Mengenal Sejarah dari Museum Seni Rupa dan Keramik di Ibukota Jakarta.

Sejarah merupakan warisan dari masa lalu untuk menjadi pedoman bagi masa yang akan datang

Museum Seni Rupa dan Keramik berlokasi dalam Kawasan Kota Tua Jakarta tepatnya di Jalan Pos Kota No. 2, Pinangsia, Taman Sari, Jakarta Barat. Museum Seni Rupa dan Keramik memiliki luas bangunan 2430 m2 dan dibangun di atas tanah seluas 9320 m2. Gedung Museum dibangun dari tahun 1866 hingga 1870 oleh arsitek yang bernama Jhe W.H.F.H.

Pada awal dibangun, gedung Museum Seni Rupa dan Keramik berfungsi sebagai Raad van Justitie Binnen Het Casteel Batavia atau Kantor Dewan Keadilan Batavia yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal Jan Pieter Miyer pada tanggal 21 Januari 1870. Kemudian sejak masa pendudukan Jepang hingga masa Revolusi Fisik (1945-1949), gedung tersebut dimanfaatkan oleh Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) sebagai asrama anggota Nederlandse Militaire Missie (NMM) atau Misi Militer Hindia Belanda. Pada masa kedaulatan Republik Indonesia, gedung diserahkan kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan digunakan sebagai gudang logistik.

Pada tahun 1968 hingga 1975 gedung ini pernah digunakan sebagai Kantor Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Pada tanggal 20 Agustus 1976 diresmikan sebagai Gedung Balai Seni Rupa oleh Presiden Soeharto. Dan di gedung ini pula terdapat Museum Keramik yang diresmikan oleh Bapak Ali Sadikin (Gubernur DKI Jakarta) pada tanggal 10 Juni 1977, kemudian pada tahun 1990 sampai sekarang menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik.

Museum ini memiliki 500-an karya Seni Rupa terdiri dari berbagai bahan dan teknik yang berbeda seperti patung, totem kayu, grafis, sketsa, dan batik lukis. Diantara koleksi-koleksi tersebut ada beberapa koleksi unggulan dan amat penting bagi Sejarah Seni Rupa di Indonesia, antara lain lukisan yang berjudul ‘Pengantin Revolusi’ karya Hendra Gunawan, ‘Bupati Cianjur’ karya Raden Saleh, ‘Ibu Menyusui’ karya Dullah, ‘Seiko’ karya S.Sudjojono, dan ‘Potret Diri’ karya Affandi.

Patung yang bercirikan klasik tradisional dari Bali, totem kayu yang magis dan simbolis karya I Wayan Tjokot dan keluarga besarnya. Totem dan patung kayu karya para seniman modern, antara lain G.Sidharta, Oesman Effendi, disusul karya-karya ciptaan seniman lulusan akademis, misalnya Popo Iskandar, Achmad Sadali, Srihadi S, Fajar Sidik, Kusnadi, Rusli, Nashar, Zaini, Amang Rahman, Suparto, Irsam, Mulyadi W, Abas Alibasyah, Amri Yahya, AS Budiman, Barli, Sudjana Kerton, dan banyak seniman dari berbagai daerah.

Koleksi Keramik di Museum ini jumlahnya cukup banyak, terdiri dari keramik lokal dan keramik asing. Keramik lokal berasal dari sentra industri daerah antara lain Aceh, Medan, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung, Purwakarta, Yogyakarta, Malang, Bali, Lombok dan lain-lain.

Museum ini juga memiliki keramik dari Majapahit abad ke-14 yang menunjukkan ciri keistimewaan yang indah dan bernilai Sejarah yang mempunyai keragaman bentuk serta fungsi. Keramik asing meliputi berbagai bentuk, ciri, karakteristik, fungsi dan gaya berasal dari China, Jepang, Thailand, Eropa. Terbanyak dari China terutama pada masa Dinasti MIng dan Ching.

VISI: Menjadikan Museum Seni Rupa dan Keramik sebagai pusat pelestarian Seni Rupa Indonesia dan sebagai tujuan kunjungan wisata seni dan budaya yang bertaraf internasional.

MISI: Meningkatkan sumber daya manusia, meningkatkan pelayanan pengunjung, melakukan penataan ruang koleksi secara berkala, meningkatkan kerjasama dengan mitra Museum.

Saat ini Museum Seni Rupa dan Keramik berada di bawah pengelolaan Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Jenis Koleksi yang dimiliki Museum Seni Rupa dan Keramik terdiri dari sketsa, lukisan, dan patung/totem dari berbagai daerah di Indonesia serta keramik dari dalam dan luar negeri.

Editor : Muhammad Farhan (7022215027)