TERKINI Harga Pangan Naik di 2025–2026 Tekan Daya Beli Masyarakat, Tekanan Inflasi dan Konsumsi Jadi Sorotan
Jakarta, Jumat (09/01/2026)
Kenaikan harga bahan pokok di Indonesia sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026 terus memengaruhi kondisi ekonomi rumah tangga, terutama pada kelompok berpenghasilan rendah dan menengah. Data terbaru menunjukkan bahwa inflasi tahunan di Indonesia pada akhir 2025 mencapai titik tertinggi sejak beberapa tahun terakhir, terutama dipengaruhi oleh lonjakan harga pangan dan beberapa komoditas penting lainnya.
Menurut laporan statistik resmi, indeks harga konsumen Indonesia (CPI) pada Desember 2025 menunjukkan kenaikan tahunan 2,92 persen, naik dari level bulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya harga komoditas pangan, seperti bahan makanan pokok.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Sejumlah keluarga melaporkan bahwa pendapatan yang tidak bertambah signifikan justru harus dialokasikan lebih besar untuk kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, dan sayuran. Banyak rumah tangga kini harus merombak anggaran belanja mereka, mengurangi pembelian barang non-esensial, bahkan memilih bahan makanan dengan harga terjangkau untuk menekan pengeluaran.
Pemerintah telah berupaya melakukan berbagai langkah stabilisasi harga. Beberapa kunjungan menteri perdagangan ke pasar tradisional di berbagai daerah menunjukkan bahwa stok pangan utama relatif aman dan beberapa komoditas masih dijual di bawah harga acuan. Namun meskipun demikian, masyarakat tetap merasakan tekanan inflasi secara nyata pada pengeluaran rumah tangga.
Badan Pusat Statistik juga mencatat bahwa indeks harga di tingkat perdagangan besar meningkat pada tahun 2025, terutama pada produk pertanian seperti beras, cabai, dan minyak nabati. Kenaikan tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan harga tidak hanya terjadi di pasar ritel tetapi juga pada rantai distribusi komoditas pangan.
Para ekonom menilai bahwa kenaikan harga pangan itu berpotensi memperlambat pertumbuhan daya beli bila tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan rumah tangga. Selain itu, fluktuasi harga pangan mendasar ini juga menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga stabilitas inflasi di tengah target Bank Indonesia yang konservatif.
Hal menarik:
Statistik terbaru menunjukkan bahwa tekanan harga cenderung lebih kuat pada kelompok makanan yang sangat dibutuhkan masyarakat (volatile foods), ketimbang barang-barang lain seperti transportasi atau pendidikan. Hal ini membuat keluarga menengah bawah terpukul lebih cepat dan signifikan dalam perencanaan anggaran bulanan.
Diolah dari sumber Suara.com, Kompas.com, Republika.com dan Antaranews.com
(Elsa Adinda Putri)

